Berita

Tanggapan Pakar Mesin Anugerah Motor Blitar Soal Dugaan Pertamax Oplosan

629
×

Tanggapan Pakar Mesin Anugerah Motor Blitar Soal Dugaan Pertamax Oplosan

Sebarkan artikel ini
Agus Prasetyo, 40 tahun bergelut di dunia otomotif

Blitar, HarianForum.com – “Awalnya saya pikir ramainya berita Pertamax yang dijual itu hasil oplosan Pertamax dengan Pertalite. Kalau dari pengalaman, hal itu tidak terlalu menimbulkan masalah yang berat. Namun begitu, tidak disarankan untuk mencampur bahan bakar bensin, karena nilai oktan Pertamax dan Pertalite berbeda. Yang bermasalah itu kalau ada jenis bahan bakar bensin dicampur dengan bahan lainnya yang tidak sesuai ukuran yang ditentukan. Biasanya hal tersebut menyebabkan mesin panas, suara kasar, atau biasanya orang mengatakan kemlitik. Selain itu, juga menimbulkan gumpalan pada saluran bahan bakar sehingga kinerja mesin berkurang,” ujar Agus Prasetyo, pemilik bengkel sepeda motor Anugerah Motor, menjawab pertanyaan HarianForum.com seiring merebaknya kabar di media sosial tentang kasus oplosan bahan bakar minyak Pertamax.

Hampir 40 tahun menggeluti dunia otomotif, terutama mesin sepeda motor berbagai jenis, serta mengikuti informasi, Agus Prasetyo belum memahami secara gamblang apa sebenarnya yang menjadi sumber pemicu keresahan bagi sebagian masyarakat tentang oplosan yang berkaitan dengan dugaan kasus korupsi terkait tata kelola minyak mentah dan produk kilang yang ditemukan oleh Kejaksaan Agung. Mengesampingkan persoalan pelanggaran hukum dan lainnya, dirinya lebih tertarik pada informasi tentang PT Pertamina Patra Niaga yang telah membeli Pertalite dengan Research Octane Number (RON) 90, kemudian dilakukan proses blending atau pencampuran sehingga menjadi Pertamax yang mempunyai RON 92.

Agus Prasetyo tidak menyoal pihak mana yang mengubah bahan bakar bensin dengan oktan 90 menjadi oktan 92, baik bahan yang digunakan maupun prosesnya. Penyuka sepeda motor lawas ini menyampaikan penjelasan bahwa istilah oplosan merujuk pada proses pencampuran secara sembarangan atau tidak sesuai dengan aturan. Akan tetapi, blending merupakan praktik yang biasa dilakukan dan bersifat umum pada produksi bahan bakar, di mana pencampurannya dengan unsur kimia lainnya bertujuan untuk menghasilkan kadar oktan.

Menurutnya, RON atau Research Octane Number merupakan ukuran bahan bakar jenis bensin yang memengaruhi proses pembakaran di ruang bakar pada mesin kendaraan bermotor. Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai dengan peruntukannya akan memicu terjadinya endapan di sistem suplai bahan bakar serta menyebabkan timbulnya suara ketukan-ketukan atau biasa disebut kemlitik pada mesin.

Tidak hanya itu, penggunaan bahan bakar jenis bensin dengan kualitas rendah secara terus-menerus berpotensi menyebabkan kerusakan akibat bertumpuknya kerak, salah satunya pada katup. Bila dibiarkan dalam jangka panjang, kerusakan akan menjalar ke komponen-komponen mesin yang lain.

“Seingat saya, dulu bensin ada dua, satu Pertamax warnanya merah dan Premium dengan RON 88 atau 89, pokoknya tidak sampai 90, warnanya kuning. Premium tidak diproduksi lagi, tahun berapa saya lupa, diganti Pertalite dengan RON 90, warnanya hijau, dan Pertamax RON-nya 92, warnanya menjadi biru. Bahan bakar Pertamax yang dulu berwarna merah dan Premium yang warnanya kuning, saya akui kualitasnya bagus untuk mesin. Istilahnya, kerusakan mesin sangat jarang sekali disebabkan oleh kualitas bahan bakar. Penggunaan bahan bakar sangat memengaruhi mesin, jadi bahan bakar yang digunakan sebaiknya sesuai dengan yang direkomendasikan oleh pabrik,” terang Agus Prasetyo.

“Berbeda dengan mesin yang dimodifikasi mengubah kapasitas hingga tenaga dengan memperbesar diameter silinder mesin motor, itu oktannya harus disesuaikan dan biasanya lebih tinggi. Kemarin ada sepeda motor standarnya menggunakan Pertalite, setelah dimodifikasi kompresinya meningkat, tetapi bahan bakarnya tetap menggunakan Pertalite. Ternyata pemilik mengatakan mesinnya panas. Kemudian saya sarankan menggunakan bahan bakar dengan oktan 92, hasilnya normal, tenaga lebih besar, dan tarikannya berbeda. Namun, ada yang mengherankan. Sepeda motor yang saya gunakan rutin dua minggu sekali ke salah satu kota di wilayah Jawa Timur (meminta tidak ditulis nama kotanya) mengalami perbedaan kualitas bahan bakar. Kalau mengisi di sini, aman-aman saja, tetapi saat mengisi BBM di sana, selalu ada kotoran di busi dan sering kali menjadi masalah. Dugaan saya, terdapat material lain yang tercampur di BBM, penilaian saya itu sejenis timbal. Jadi, oktannya tetap, tetapi kualitasnya berubah. Yang paling harus diperhatikan adalah persoalan mesin sepeda motor dengan sistem injeksi. Bahan bakarnya harus benar-benar berkualitas dan sesuai dengan spesifikasi motor karena rentan dengan kerusakan, terutama pada injeksinya. Maka, untuk menghindari kerusakan, pemilik harus rajin memeriksa filter bahan bakar secara teratur, juga kalau perlu rutin dibersihkan,” tandasnya saat ditemui di bengkel Anugerah Motor, Jl. Ciliwung, Kota Blitar. (Ans).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *