Blitar, Harian Forum.com – Wakil Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama ( MWCNU), KH Sonhaji menuturkan, hingga pengajian Ahad Pon usai kurang lebih pukul 10.00 WIB, tidak sedikit jama’ah terutama yang berusia lanjut, ikut mengantri memeriksakan kesehatan.Disampaikan KH Sonhaji, pengajian Ahad Pon yang rutin digelar oleh MWC NU Sutojayan, pada Minggu (15/2) dihadiri lebih dari 1.000 jama’ah. Membludaknya jama’ah di Masjid NU Sutojayan, selain menghadiri tausiyah yang disampaikan Prof Dr KH Maskuri,M.Si, jama’ah pengajian Ahad Pon juga mengikuti rangkaian kegiatan termasuk donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis yang dilayani para petugas dari RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar.
” jama’ah yang hadir di pengajian hari ini meluber sampai di pinggir jalan, karena di halaman masjid sudah tidak menampung lagi, mungkin yang hadir seribu lebih. Dan tadi didokumentasikan dengan menggunakan drone.Saya lihat pengajiannya sudah selesai, bapak – bapak maupun ibu – ibu antri untuk cek kesehatan. ” tutur KH Sonhaji, wakil syuriah MWCNU Sutojayan.

Pembekuan terhadap kepengurusan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama ( MWC NU) Sutojayan oleh PCNU Kabupaten Blitar dengan surat nomor 100/PC.01 A.1.02.44/16.17/12/2024, tanggal 13 Desember 2024, tidak membawa pengaruh bagi warga nahdliyin dan nahdliyat Sutojayan, dengan melihat antusias kehadiran jama’ah NU pada pengajian rutin Ahad Pon yang diselenggarakan oleh MWC NU Sutojayan.
Bukan hal yang baru, keistiqomahan perjuangan pengurus Nahdlatul Ulama Sutojayan maupun banom-banomnya sudah teruji di orde lama dan orde baru.Perjuangan NU Sutojayan pernah disampaikan Hj. Af’idah tokoh Muslimat NU Blitar, tokoh Muslimat NU, selama 60 tahun lebih berkhidmat di organisasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah kepada Harian Forum.com (18/12/2004).
Hj. Af’idah menceritakan dari pengalamannya dan mengetahui langsung gerakan maupun gejolak politik mulai dari bergesernya pemerintahan orde lama ke orde baru, jatuhnya orde baru berganti reformasi. Hj. Af’idah masih mengingat pada saat pemerintahan orde baru, dirinya bersama suami serta teman – temannya telah “dikandangkan” karena persoalan nama sekolah yang mengharuskan hanya menggunakan Islam saja, tanpa Nahdlatul Ulama.
Tekanan – tekanan dengan cara apapun, tidak bisa mengalahkan keteguhan hati Hj. Af’idah, suaminya dan teman-temannya untuk mempertahankan nama Nahdlatul Ulama, dikarenakan konsistensinya menjaga amanah dari orang – orang NU yang mendirikan sekolah, hingga sampai sekarang tulisan NU masih terpampang.

Lodoyo, sekarang dikenal Sutojayan merupakan wilayah Blitar selatan, dahulu di masa orde baru masuk zona karantina politik dengan pengawasan dan doktrin dari rezim orde baru melalui aparat pemerintah mulai dari kelurahan, kecamatan, kepolisian sektor hingga komando rayon militer ( Koramil ).
Beratnya perjuangan Muslimat NU juga disampaikan Hj.Af’idah, dimana pada tahun 1968 hingga 1970, Hj. Siti Fatimah mulai berjuang merintis pengajian di tiap-tiap kecamatan dengan kondisi alam pegunungan kapur selatan yang curam serta perbukitan.Meski menghadapi kondisi alam yang sulit, minimnya infrastruktur serta situasi politik yang ada, tidak menyurutkan perjuangan Hj. Siti Fatimah dalam merintis pengajian-pengajian warga NU, meskipun yang hadir hanya 40 sampai 50 orang dan paling banyak sekitar 100 orang
Warga nahdliyin dan nahdliyat Sutojayan merupakan pewaris para pejuang Nahdlatul Ulama yang sangat lekat dengan sejarah panjang loyalitas ke NU an, dari pergolakan politik orde lama sebelum meletusnya G30 S PKI 1965, warga NU menghadapi konflik fisik yang cukup keras di tingkat akar rumput, hingga pada masa rezim orde baru juga mengalami tekanan politik.
Satijan Abdullah dikenal panggilan Mbah Jan, anggota Banser 1964 pada saat ini tinggal di desa Bacem, kecamatan Sutojayan juga pernah menyampaikan kisahnya kepada Harian Forum.com (31/12/2018), bahwa di tahun 1963 hingga 1964, Partai Komunis Indonesia ( PKI ) dan underbownya Pemuda Rakyat, melakukan penjarahan dan penculikan terhadap para kyai maupun tokoh NU dan bahkan tidak jarang tokoh masyarakat lainnya juga menjadi korban. Aksi – aksi yang dilakukan oleh PKI dan Pemuda Rakyat benar benar membuat resah pada saat itu. Melihat keresahan warga, mendorong pemuda Ansor NU bereaksi melakukan perlawanan secara fisik.
Tidak hanya itu, Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama Sutojayan juga memiliki peran penting dalam membantu Operasi Trisula yang digelar TNI Angkatan Darat di Blitar Selatan pada tahun 1968, meski pada akhirnya dimasa rezim orde baru ( Orba ), warga nahdliyin Sutojayan kenyang dengan intervensi dari pemerintah saat itu.Dan yang paling menarik, sekarang ini pengurus MWC NU Sutojayan menghadapi tekanan pakta loyalitas di atas kertas.
” mewakili teman – teman pengurus MWC NU Sutojayan dan banom-banomnya, dengan diberikannya SK pembekuan dari PCNU, komitmen kami akan tetap mengabdi, selalu khidmah kepada jam’ iyah, khadimul ummah, melayani warga se kecamatan Sutojayan.Kami berkomitmen akan terus memberikan pelayanan asupan rohani dan asupan jasmani, artinya warga NU di Sutojayan ” terang KH Sonhaji
” semoga warga NU Sutojayan pada saat mengikuti kegiatan rutin Ahad Pon, tidak hanya mendapatkan asupan kesehatan rohani, akan tetapi juga mendapatkan asupan kesehatan jasmani membangun jiwa raga untuk warga, komitmen kami seperti itu.Kedepannya kita wacanakan menambahkan kegiatan selain donor darah, pemeriksaan kesehatan, yang mana para pengusaha akan memberikan sebagian rejekinya berupa door prize atau hadiah. Dan nanti juga untuk kedepannya, pada libur sekolah akan menggelar khitanan massal ” tandasnya.(Ans)













