Berita

Kedaulatan, Kemandirian Dan Kesejahteraan Di Tangan Petani Kecil, Cita-Cita Besar AB2TI

408
×

Kedaulatan, Kemandirian Dan Kesejahteraan Di Tangan Petani Kecil, Cita-Cita Besar AB2TI

Sebarkan artikel ini

Trenggalek, Harian Forum.com -Ketergantungan terhadap sarana produksi dan penentuan harga hasil produksi menjadi penyebab pelaku pertanian terutama petani kecil yang memproduksi pangan lokal semakin hari nyaris semakin tidak mempunyai daya.Yang terjadi, disaat petani membutuhkan sarana produksi dari benih, pupuk hingga pestisida kebutuhan untuk produksi, harga
sesuai ketentuan yang diputuskan produsen atau penjual.Sedangkan untuk hasil panen, petani tidak memiliki partisipasi secara penuh dalam penentuan harga pembelian gabah walaupun harga yang ditetapkan sama sekali tidak melindungi petani.

Ironis, namun persoalan di dunia pertanian pangan hingga kini masih dialami oleh petani menurut Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia ( AB2TI ), kondisi yang terjadi digambarkan dengan smiling curve, dimana pada puncak sisi kiri merupakan penyedia sarana mulai dari penyedia benih, penyedia pupuk, penyedia pestisida dan penyedia alat pertanian yang dibutuhkan petani.Sisi kiri pada smiling curve berorientasi profit oriented, sehingga dipastikan tidak mau mengalami kerugian.Dan bila hal tersebut terjadi, tentu akan ditransformasikan ke petani dengan cara menaikan harga benih, pupuk maupun pestisida.

Disampaikan Profesor Dwi Andreas Santosa usai pertemuan Safari AB2TI 2025 yang digelar di kediaman salah satu petani di kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek pada Rabu (25/6), menjelaskan pada sisi kanan smiling curve terdapat pengepul, penggilingan padi, pedagang beras, industri pangan, industri pengolahan makanan dan minuman mempunyai keinginan yang sama tidak mau mengalami kerugian, dan petani yang menanggungnya atas harga yang diambil oleh pemerintah di tingkat konsumen, meskipun penetapan harga dirasa tidak berpihak kepada petani.

Mirisnya kondisi petani yang tertekan di dua sisi dan keberadaannya semakin di bawah, membuahkan pemikiran Profesor Dwi Andreas Santosa membangun visi besar AB2TI, bahwa petani tidak hanya berdaulat, akan tetapi juga mandiri serta sejahtera, dimana masuk pada sisi kiri smiling curve, petani harus mampu memproduksi benih dengan mendasarkan bahwasanya benih merupakan salah satu kunci faktor dalam tanaman, sehingga petani secara perlahan akan terangkat karena mampu membuat benih dan menjadi pemulia.

“Sedangkan masuk pada sisi kanan smiling curve, pada tahun 2017 petani membentuk koperasi AB2TI, kemudian pada tahun 2023 membuat badan usaha dibawah koperasi dengan mendirikan rice rilling plant di Indramayu.Saat ini RMP milik AB2TI termodern di Indramayu, rendemen yang dihasilkan rice rilling plant Indramayu milik AB2TI itu yang tertinggi.Untuk presentase tergantung inputnya, bila gabah bagus bisa 64 sampai 65 persen.Rice rilling plant di Indramayu merupakan RMP modern pertama kali dan satu – satunya di Indonesia yang dimiliki oleh petani kecil yang berada di koperasi AB2TI ” jelas Profesor Andreas, ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia ( AB2TI )

Ditanya berapa kapasitas rice rilling plant milik AB2TI, guru besar Institut Pertanian Bogor University menuturkan RMP di Indramayu pada saat ini memiliki kapasitas 120 ton gabah kering panen ( GKP ) perhari, dan akan ditingkatkan kapasitasnya menjadi 160 ton gabah kering panen perhari dengan menandaskan RMP di Indramayu menghasilkan beras premium 40 ton perhari, sedangkan untuk beras medium menghasilkan 60 ton perhari.Dengan melihat kemampuan tersebut, menjadikan Prof Andreas sangat optimis rice rilling plant milik koperasi AB2TI di Indramayu tidak lama lagi menjadi pengolahan gabah berbasis teknologi modern terbesar di Indramayu.

“Perkembangan sangat baik dan kami memutuskan untuk membangun RMP milik petani yang dibawah koperasi AB2TI di Bojonegoro, dengan kapasitas dua kali dari RMP Indramayu.Kapasitas mesin menghasilkan beras, kalau di Indramayu 20 sampai 40 ton perhari, kalau di Bojonegoro 40 sampai 80 ton perhari.Semua yang dilakukan AB2TI supaya petani bisa pelan – pelan terangkat ke atas dan menguasai dari hulu sampai ke hilir, dan smiling curvenya petani tidak lagi tersenyum semakin kedalam, tetapi ke atas.Itu cita – cita besar AB2TI, bagaimana membangun petani kecil berdaulat, mandiri dan sejahtera,” tandas Profesor Dwi Andreas Santosa ketua AB2TI.(Ans).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *