Nganjuk, HarianForum.com- Hari ini, Senin (13 Dzulhijjah 1446 H), umat Islam menutup rangkaian perayaan Idul Adha dengan penuh syukur dan harapan. Sebagai hari tasyrik terakhir, momen ini menjadi waktu untuk merenung atas makna ibadah kurban, kebersamaan, dan kepedulian sosial yang telah dijalankan selama beberapa hari terakhir.
Tiga hari setelah Idul Adha, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah—dikenal sebagai hari tasyrik, di mana umat Islam dianjurkan untuk terus berdzikir, bertakbir, dan melanjutkan distribusi daging kurban. Di sejumlah masjid dan lingkungan warga, pembagian daging kurban masih berlangsung hingga hari ini, memastikan bantuan sampai ke masyarakat yang membutuhkan.
Larangan Puasa
Dilarang berpuasa pada hari-hari tasyrik bagi umat Islam secara umum, karena hari-hari tersebut adalah hari makan dan minum, bukan hari untuk menahan diri dari makan.
«أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ»
“Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum.”
(HR. Muslim no. 1141)
Kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol pengorbanan demi kebaikan bersama. Semangat ini bisa diwujudkan dalam bentuk nyata seperti membantu tetangga, peduli pada sesama yang kurang beruntung, dan menjaga lingkungan. Ketika kita mampu mempertahankan nilai ini, maka Idul Adha tidak hanya menjadi hari raya, melainkan gaya hidup.
Kini, menjelang berakhirnya hari tasyrik, warga mulai kembali ke aktivitas harian. Diharapkan umat Islam tetap menjaga semangat beribadah. Mari jadikan semangat Idul Adha sebagai pengingat agar terus mengedepankan kepedulian sosial, mempererat tali persaudaraan, dan menumbuhkan rasa syukur dalam setiap aktivitas. Dengan begitu, keberkahan dan makna hari besar ini dapat terasa sepanjang tahun.
Sebagai penutup, Idul Adha bukan hanya tentang ritual, tetapi juga latihan rohani dan sosial yang menuntun manusia menjadi pribadi yang lebih berempati dan bersyukur. Rangkaian hari raya boleh usai, tapi semangatnya seharusnya terus mengalir dalam kehidupan.










