Uncategorized

Berontaknya Seniman Blitar Cetuskan Grebeg Pancasila, Cikal Bakal Peringatan Hari Lahir Pancasila

21
×

Berontaknya Seniman Blitar Cetuskan Grebeg Pancasila, Cikal Bakal Peringatan Hari Lahir Pancasila

Sebarkan artikel ini

Blitar, HarianForum.com – Di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno berpidato tanpa teks mengusulkan lima prinsip dasar untuk Negara Indonesia Merdeka atau Panca Sila.Namun pemerintah Orde Baru (Orba) menyatakan Pancasila tertuang di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang mana dalam pandangan seniman dan budayawan Blitar Ki Bagus Putu Parto, yang dinyatakan pemerintahan orde baru menunjukkan tidak adanya pengakuan bahwa Pancasila merupakan buah pikiran yang digali oleh Bung Karno akan jati diri bangsanya.

Mengutip tulisan sejarawan Alm.Mbah Mardiono Gudel dalam rangkaian sejarah Grebeg Pancasila, Ki Bagus Putu Parto juga berpendapat selama pemerintahan orde baru, hari Kesaktian Pancasila lebih diutamakan, hingga menurut pemikirannya yang dilakukan pemerintah saat itu bukan hanya meng “anak tiri” kan sejarah, tetapi juga merupakan upaya menghilangkan memori bagi generasi penerus, bahwa lahirnya Pancasila bukan atas inisiasi Bung Karno.

Kegelisahan mendalam atas tidak adanya penghargaan kepada Bung Karno, hingga menyesakkan dada “Wong Blitar” dan mendidihkan darah pemberontak di kalangan seniman – seniman muda yang merasakan peng” anak tiri “an sejarah.Berawal dari tenggelam dalam kekagumannya melihat masyarakat Ponorogo dalam melestarikan Reog Ponorogo, terbawa sampai ke Blitar dan langsung disampaikan ke Drs.Suwardjo, ketua majelis Himpunan Insan Pecinta Bung Karno (HIPBK).

Gagasan mengukuhkan dan melestarikan lahirnya Pancasila atas inisiatif Bung Karno yang disampaikan Ki Bagus Putu Parto kepada Drs Suwardjo, ibarat “gayung bersambut kata berjawab”, dengan digelarnya pertemuan para seniman Blitar dengan Majelis Himpunan Insan Pecinta Bung Karno di jalan Aru kelurahan Karangtengah Kota Blitar, dimana dalam pertemuan budayawan Ki Susanto WS mengemukakan apa yang disampaikan Ki Bagus Putu Parto tentang Grebeg Pancasila merujuk dengan istilah “grebeg” menurutnya mempunyai makna atau arti kebersamaan.

Konsep awal Grebeg Pancasila yang diinisiasi Ki Bagus Putu Parto, terdapat 3 ritus atau tata cara upacara yang khidmat dengan penyelenggaraan upacara budaya, kirab gunungan lima dari Istana Gebang menuju Makam Bung Karno dan kenduri Pancasila di Makam Bung Karno.Pada ritus kirab lima gunungan bentuknya gunungan Yogyakarta, mempunyai arti lima sila Pancasila, yang diiringi 1 prajurit, 6 prajurit membawa burung garuda dan foto Bung Karno, 45 prajurit membawa gunungan lima, yang mana formasi prajurit melambangkan hari lahir Pancasila 1 – 6 – 1945.

Tanggal 1 Juni tahun 2000, pertama kali Grebeg Pancasila digelar dengan melakukan kirab dari Istana Gebang menuju Makam Bung Karno. Insan pecinta ajaran Bung Karno yang tergabung HIPBK menjadi panitia penyelenggara yang mana Drs.Suwardjo sebagai ketua dan Ki Djoko Haryanto sebagai sekretaris, sedangkan pelaksana acara para seniman Blitar dari berbagai cabang kesenian.

Ki Susanto WS dan Ki Bagus Putu Parto penata pelaku, Ki Wandono penggarap iringan gamelan atas pesan dari Ki Susanto WS, gending yang mengiringinya “Ibu Pertiwi”  merupakan komposisi musik karawitan kesukaan Bung Karno, dan tembang mocopat hari lahir Pancasila karya Ki Sugito. Pembaca teks Pancasila Drs Suwardjo, pengibar bendera Jontor Siswanto dan kawan – kawan, Ki Sukowiyono penata tari dan puluhan seniman dengan peran dan tugasnya, termasuk Alm.mas Andreas Edison membaca puisi di kenduri Pancasila.

Tahun 2001 awal Grebeg Pancasila digelar di Alun – alun kota Blitar, melibatkan para pejabat di pemerintahan daerah kota dan kabupaten Blitar, dengan orientasi penataan etestika yang semakin sempurna.Penyelenggaraan Grebeg Pancasila bersamaan dengan satu abad kelahiran Bung Karno atau hari ulang tahun ( Haul ) ke 100, tepatnya tanggal 6 Juni 2001 yang diikuti insan pecinta Bung Karno dari seluruh penjuru tanah air.

Upaya pembakuan pelaksanaan Grebeg Pancasila dilakukan melalui seminar di balai kota Koesoemo Wicitro pada tanggal 22 April 2001 dengan mengundang tiga narasumber pakar budaya selain pengageng parentah Kraton Surakarta Hadiningrat yang diwakili KRTH Winarnodipuro dan KRT Bowodipuro, serta budayawan Ki Jati Kusumo, dihadiri 12 budayawan kota Blitar, kepala kelurahan se kota Blitar, LSM, pengurus dewan kesenian kota Blitar dan tokoh masyarakat.

Tanggal 4 dan 11 Mei 2004 penyelenggaraan Grebeg Pancasila dilaksanakan di Aula Dinas Komimpar Kota Blitar memberi kesempatan penyempurnaan dengan pernak – pernik budaya yang tidak menyimpang dari pakem.Ritus yang disempurnakan menjadi 5 kegiatan, yang mana atas usulan Purwanto S.Pd digelar Bedol Pusaka, dari Istana Gebang menuju Balai Kota Blitar tanggal 31 Mei pukul 18.00 WIB, sedangkan KI Djoko Haryanto memberikan usul diselenggarakan malam tirakatan di Balai Kota tanggal 31 Mei pukul 21.00 hingga pukul 24.00 WIB. Sementara, upacara budaya peringatan hari lahir Pancasila dilaksanakan di alun – alun tanggal 1 Juni pukul 08.00 WIB, kirab gunungan lima dari alun – alun menuju makam Bung Karno, serta kenduri Pancasila digelar di makam Bung Karno atau perpustakaan Bung Karno.

Dalam tulisan Alm.Mbah Mardiono Gudel ( 2016 ), peringatan hari lahir Pancasila yang dikemas budaya Grebeg Pancasila ke 16 pada tahun 2015, selain dihadiri keluarga Bung Karno, pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat / Majelis Permusyawaratan Rakyat ( DPR/MPR ) juga hadir.Presiden Republik Indonesia Joko Widodo hadir dalam peringatan hari lahir Pancasila ke 16 memberikan sambutan, sedangkan ketua MPR berperan pembaca “Sabda Kawedhar “.

Satu tahun kemudian tepatnya tanggal 1 Juni 2016, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila yang tertuang dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila, yang mana tanggal 1 Juni juga ditetapkan sebagai hari libur nasional.Pemilihan tanggal tersebut merujuk pada penyampaian pidato Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno di sidang BPUPKI yang mengusulkan lima dasar negara dengan nama Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945.

Peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni menjadi catatan sejarah Indonesia, tidak lepas dari Istana Gebang, pada masa pemerintahan orde baru menjadi tempat ” sakral ” berkumpulnya para seniman dan budayawan Blitar yang mempunyai nyali menantang kekuasaan otoriter dengan melakukan perlawanan terhadap pengekangan berekspresi, ketidakadilan serta politik yang menindas.

Namun Ki Bagus Putu Parto merasa prihatin dengan marwah Istana Gebang pada saat ini yang lebih ditonjolkan sebagai destinasi wisata ketimbang nilai besar sejarah perjuangan. Menurut pandangannya bahwa Bung Karno sebenarnya lebih besar dari kota Blitar.Menilik kembali 30 tahun yang lalu di masa Orde Baru, tekanan politik kekuasaan sangat kuat sehingga siapapun yang melakukan kritik terhadap pemerintah, tuduhan anti pemerintah dipastikan bakal dijatuhkan dan Istana Gebang merupakan rumah bersama tempat berkumpulnya oposan para aktivis dan seniman.( Jendela Desa.com, 4 Oktober 2025 ).

Bagi bangsa, sejarah sangat penting sebagai fondasi jati diri dan sumber inspirasi membangun masa yang akan datang juga menjadi pelajaran untuk tidak mengulangi kekeliruan di masa lalu, yang mana Ir Soekarno berpesan jangan sekali – kali melupakan sejarah.Begitu juga dengan kutipan penulis Republik Ceko Milan Kundera, jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, hancurkan sejarah dan ingatannya. Hancurkan pula orang yang menulis dan mengajarkannya. Maka pastilah bangsa itu secara perlahan akan musnah.(*).

* Anis Widodo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *