Powered by free wordpress themes

Monday , September 27 2021
Home / Serba-serbi / Tahukah Anda 6 Pulau Yang Dihuni Hewan Unik Selain Pulau Komodo, Simak Kisahnya

Powered by free wordpress themes

Pulau Komodo Yang Ada di Indonesia (Sumbwe : Lpt-6)

Tahukah Anda 6 Pulau Yang Dihuni Hewan Unik Selain Pulau Komodo, Simak Kisahnya

HarianForum.com – Pulau-pulau dikenal karena berbagai alasan. Ada yang terkenal sebagai tujuan wisata karena pantai yang cantik, ombak yang bagus untuk selancar, atau terumbu karang yang indah untuk snorkeling.

Ada juga beberapa yang terkenal karena keberadaan gunung berapi, lintasan pendakian, atau suku-suku pribumi. Tapi, ada juga yang terkenal karena satwa khas di sana, semisal Pulau Komodo di Indonesia.

Berikut ini adalah enam pulau yang dihuni satwa yang leluhurnya bukan menjadi peliharaan manusia:

1. Iguana Hijau di Grand Cayman
Pulau terbesar di gugusan Kepulauan Cayman itu telah diserbu oleh iguana hijau yang sebenarnya hidup di Amerika Tengah dan Selatan, lalu dibawa manusia ke pulau itu sebagai hewan peliharaan pada 1980-an.

Iguana hijau memang termasuk herbivora yang jinak, tapi tetap membahayakan pulau karena mereka merusak batang pohon liar, merusak kebun dan ladang, dan bersaing pangan dengan spesies setempat.

2. Kuda Liar di Pulau Assateague
Pulau Assateague yang dimiliki bersama oleh Maryland dan Virginia merupakan rumah bagi 300 kuda liar. Dua per tiga pulau menjadi milik negara bagian Maryland, sedangkan sisanya di selatan menjadi milik Virginia.

Kuda-kuda di pulau itu menjadi atraksi populer, walau harus diingat bahwa mereka bukanlah hewan peliharaan. Setiap tahun, para pengunjung yang terlalu mendekat pun ditendang atau digigit.

3. Tikus di Pulau Henderson
Pulau Henderson adalah pulau terumbu terpencil di Pasifik Selatan. Tidak ada manusia hidup di sana, tetapi pulau itu kaya akan kehidupan liar. Di Pulau Henderson ada burung, invertebrata, dan tanaman yang tidak ada di tempat manapun di seluruh dunia.

Tapi pulau itu juga memiliki masalah besar dengan tikus. Tikus-tikus Polinesia dibawa ke pulau itu oleh para pelaut pada kira-kira 800 tahun lalu.

Para peneliti yang berkunjung ke pulau pada masa kini harus berhati-hati dengan paket-paket makanan mereka karena tikus-tikus itu menggigiti tenda untuk bisa meraih kudapan yang ada di dalam.

4. Kucing di Pulau Tonawanda
Ada sebuah pulau kecil di sungai Niagara, negara bagian New York, yang dihuni oleh beberapa orang, tapi dipadati oleh kucing-kucing terlantar.

Beberapa tahun lalu, Pulau Tonawanda dibanjiri oleh ratusan kucing sakit yang tak terawat. Sebagian dari mereka mungkin tiba di pulau dengan caranya masing-masing, tapi orang-orang pun membuang kucing-kucing tak diinginkan ke sana.

Kucing-kucing itu membuang tinja di mana-mana dan bertengger ke atas perahu-perahu yang sedang berlabuh di dermaga. Hal itu menyebabkan masalah bau di pulau tersebut.

Pada 2014, Danielle Coogan yang tinggal di pulau utama North Tonawanda mengunjungi restoran populer di pulau dan mengkhawatirkan situasi kucing di pulau, lalu memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Wanita itu memulai penggalangan dana “Operation Island Cats” yang sangat berhasil. Dengan uang yang didapat, Coogan dan sekelompok sukarelawan menangkap, melakukan kebiri, dan memberi vaksinasi kepada kucing-kucing di sana.

Anak-anak kucing diiklankan untuk diadopsi, tapi kucing-kucing yang lebih tua dikembalikan ke pulau asalnya.

Kucing-kucing yang hidup di Pulau Tonawanda sekarang ini terlindungi dari rabies dan penyakit lazim lainnya pada kucing. Mereka juga tidak bisa lagi beranak terlalu banyak.

Kucing-kucing di sana cukup sejahtera, tapi mengalami hambatan tahun lalu. Pada musim semi 2016, seorang pekerja melakukan bersih-bersih setelah kebakaran di restoran dermaga dan tidak sengaja menabrak penangkaran kucing menggunakan bulldozer.

Para pemilik restoran bersikeras bahwa kerusakan itu terjadi karena kecelakaan. Tidak ada kucing yang terdampak dan Coogan pun kembali melakukan penggalangan dana untuk memperbaiki yang telah rusak.

5. Kelinci di Okunoshima
Okunoshima adalah sebuah pulau kecl berjarak 3 kilometer dari pantai Jepang. Pulau itu dikenal juga sebagai Pulau Kelinci karena populasi besar kelinci jinak di sana.

Banyak orang berkunjung ke pulau untuk menyaksikan kelinci-kelinci, tapi wisata tersebut membawa dampak negatif. Karena orang memberikan cemilan, kelinci-kelinci itu semakin berkembang biak mencapai jumlah yang tidak bisa ditopang oleh sumberdaya di pulau.

Kelinci juga termasuk hewan yang makan sebanyak-banyaknya atau kemudian kelaparan sama sekali. Ketika menyantap terlalu banyak saat hari cerah karena diberi oleh para turis, sistem pencernaan mereka rusak saat turis tak datang karena terhalang cuaca buruk.

6. Wallaby di Pulau Lambay
Wallaby adalah sejenis hewan marsupial pribumi di Australia, tapi juga menyintas di Pulau Lambay, sebuah pulau kecil milik pribadi di lepas pantai Irlandia. Pulau Lambay berjarak 14.500 kilometer dari tempat asal wallaby.

Wallaby juga tergolong hewan pemalu, sehingga keterpencilan pulau itu cocok bagi mereka.
Hewan-hewan itu dibawa ke sana oleh pemilik pulau pada 1950-an, bersama-sama dengan beberapa spesies lain seperti penyu dan kadal. Tapi hanya wallaby yang bertahan.

Tidak diketahui jumlah wallaby di pulau itu sebelum ada tambahan dari Dublin dan jumlahnya sekarang juga tidak diketahui karena hewan-hewan itu tidak ditandai. Perhitungan jumlahnya juga sulit karena kecenderungan hewan itu untuk bersembunyi, tapi diduga antara 30 hingga 50 ekor. (Lpt-6/Frm)

Check Also

Kapolda Jatim Hadiri Upacara Peringatan HUT UU Nomor 5 Tahun 1960 di Kantor Kanwil BPN Prov Jatim

Surabaya, HarianForum.com- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, bersama Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *