Sabtu , Januari 28 2023
163 views
Foto by febrinaayunurmayasari.wordpress.com

SEJARAH KABUPATEN TRENGGALEK

A. Asal Usul Nama Trenggalek dalam Lintasan Sejarah Agung

Nama Trenggalek merupakan gabungan dari kata Taranggana dan Rara Golek. Pangeran Taranggana adalah putra Sinuwun Paku Buwana I. Beliau raja Mataram Kartasura yang memerintah tahun 1708 – 1719. Ibunya yaitu Kanjeng Ratu Mas Balitar, putri Bupati Madiun. Pangeran Taranggana memiliki kedudukan tinggi, trahing kusuma rembesing madu.

Mustikane putri tetunggule Widodari. Begitulah lukisan wanita utama. Rara Golek adalah putri Arya Menak Sopal, seorang Demang yang berpengaruh di kawasan Gunung Jaar, Gunung Gemblung, Gunung Banyon dan Gunung Prongos. Begitulah lingkungan pegunungan yang asri anglam lami.

Di daerahnya Demang Sopal dikenal sebagai tokoh yang luhuring budi, andhap asor, wani ngalah, ramah, murah. Beliau selalu memberi pertolongan kepada siapa saja yang membutuhkan. Benar benar kajen keringan. Harta bendanya lebih sering digunakan untuk kegiatan sosial. Beliau selalu berdarma bakti demi ibu pertiwi.

Pemimpin sejati selalu rela berkorban jiwa raga harta benda. Tentu untuk rakyat banyak. Lila lan legawa kanggo mulyane negara. Kepentingan umum lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi atau keluarga. Demang Menak Sopal amemangun karyenak tyasing sasama.

Dalam kehidupan masyarakat Demang Menak Sopal berilmu tinggi. Beliau pernah berguru kepada Ki Ageng Sela yang dapat menangkap petir. Bagi petani yang bekerja di sawah Ki Ageng Sela merupakan pengayom dan pengayem. Kesaktian Ki Ageng Sela diwariskan kepada Menak Sopal, dengan cara mesu budi.

Labuh labet marang praja. Makanya Demang Menak Sopal pada tahun 1713 dapat membangun bendungan di kali Ngasinan. Berkali-kali bendungan jebol. Setelah diteliti ternyata diganggu oleh siluman bajul putih. Dengan melakukan tata cara ritual di kali Ngasinan, siluman bajul putih menyingkir. Cukup dengan sesaji tumbal ayam cemani.

Demang Menak Sopal juga berguru kepada Syekh Siti Jenar di Padepokan Lemah Bang. Beliau mempelajari ngelmu kasampurnan atau kawruh rasa jati. Dimulai dengan tahap sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Rasa jati, sari rasa jati, sarira sajati, rasa tunggal – sari rasa tunggal – sarira satunggal. Ibarat warangka manjing curiga.

Pada puncaknya Demang Menak Sopal mencapai satataning panembah. Yakni pengetahuan tentang manunggaling kawula Gusti. Wikan marang sejatining becik. Ilmu tingkat tinggi banyak dipelajari kasepuhan Kejawen.

Putri Demang Menak Sopal bernama Rara Golek. Seperti ayahnya, Rara Golek suka mahas ing ngasepi. Sering laku prihatin, meliputi tapa ngidang, tapa ngalong, tapa ngrowot, tapa mutih, tapa ngebleng, tapa nggeniara, tapa banyuara. Cegah dhahar lawan guling. Anelasak wana wasa tumuruning jurang terbis.

Wajar sekali bila Rara Golek mewarisi kesaktian Demang Menak Sopal yang kerap lelaku. Laku prihatin menajamkan mata jiwa.
Pada tahun 1718 Pangeran Taranggana menikah dengan Rara Golek. Pesta berlangsung meriah selama lima hari lima malam. Tamu hadir hilir mudik untuk memberi ucapan selamat kepada pengantin yang berbahagia.

Kembul bujana andrawina. Tamu undangan dari istana Mataram Kartasura, Tegal, Semarang, Kotagedhe, Demak, Jepara, Pati, Pengging, Sragen, Madiun, Kediri, Gresik dan Surabaya. Suguhan mbanyu mili. Tiap malam digelar kesenian rakyat : wayang kulit, kethoprak, ludruk dan wayang wong. Siang hari diisi dengan kesenian langen tayub, reyog Ponorogo, jaranan Tulungagung. Semua merasa senang gembira.

Pada tanggal 31 Agustus 1718 nama kedua mempelai ini dinamakan Taranggana Rara Golek. Atas usul Pangeran Suryoputro dua nama indah ini digabung dengan akronim Trenggalek. Jadi nama Trenggalek ini untuk menghormati Pangeran Taranggana dan Rara Golek yang sudah menjadi pasangan suami istri.

Pangeran Suryoputro adalah kakak kandung Pangeran Taranggana. Kelak Pangeran Suryoputro menjadi raja Mataram tahun 1719 – 1726, dengan gelar Kanjeng Sinuwun Amangkurat Jawi.

Jaman terus mengalami kemajuan. Status kademangan yang dipimpin oleh Menak Sopal dinaikkan menjadi Kabupaten Otonom. Daerah pemekaran itu resmi menjadi kabupaten Trenggalek.

Nilai etis filosofis bersumber dari kearifan lokal. Pangeran Taranggana dan Rara Golek menggantikan kepemimpinan Menak Sopal yang sudah lengser keprabon, madeg pandhita. Beliau mungkur ing kadonyan. Pasangan Taranggana Rara Golek membuat gembira sekalian warga. Kabupaten Trenggalek menyinarkan cahaya lahir batin. Itulah makna Trenggalek atau terang ing galih. .

B. Kiprah Warga Kabupaten Trenggalek dalam Membangun Peradaban Agung

Trenggalek menjadi kawasan yang gumebyar kencar kencar. Tumenggung Taranggana dilantik menjadi Bupati Trenggalek pada tanggal 31 Agustus 1721. Upacara pelantikan dilakukan oleh Sinuwun Amangkurat Jawi, raja Mataram Kartasura. Kabupaten Trenggalek semakin arum kuncara.

Rerenggane kutha wis sarwa tumata. Pembangunan segala bidang berjalan lancar. Kantor kabupaten, alun-alun, masjid agung, pasar dibangun dengan megah mewah indah. Rakyat pun merasa bungah. Mereka cukup sandang, pangan, papan.
Perpindahan ibukota Mataram dari Kartasura ke Surakarta pada tahun 1745.

Jaringan kerja masyarakat Trenggalek sangat luas. Tumenggung Honggowongso sebagai pimpinan proyek mengajak pemborong bangunan dari daerah Panggul, Munjungan, Pule, Dongho, Tugu, Karangan dan Kampak. Mereka punya keahlian dalam bidang bahan bangunan marmer. Kebanyakan mereka terlalu paham kualitas bahan marmer dari Tulungagung.

Pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana III, raja karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1749 – 1788. Seniman kabupaten Trenggalek yang berasal dari daerah Watulimo, Bendungan, Gardusari, Pogalan, Durenan dan Suruh diundang ke istana Surakarta.

Seniman ngrenggani bumi. Para seniman wayang wong diberi pelatihan tata pentas dan tata panggung. Waktu itu di Sitinggil menggelar wayang wong dengan lakon Begawan Ciptowening. Pelatihan ini membawa hasil. Seniman Trenggalek semakin menguasai jenis cerita Mahabarata. Pada tahun 1769 diselenggarakan pentas wayang wong di pendopo kabupaten Trenggalek dengan lakon Begawan Mintaraga.

Sengkut gumregut tandang gawe. Keterlibatan warga Trenggalek di karaton Surakarta Hadiningrat sangat tinggi. Pada tahun 1804 pejabat Trenggalek diundang untuk mengikuti sarasehan budi pekerti luhur. Forum ini membicarakan isi serat Wulangreh karya Sinuwun Paku Buwana IV. Beliau memberi wejangan agar seseorang menyingkiri watak adigang, adigung, adiguna. Jangan sombong dalam pergaulan. Sarasehan itu berguna untuk membina mental spiritual di kalangan generasi muda.

Gendhing Ladrang wahyu.

Pra taruna angudiya
Saniskara sanguning dumadi
Marsudi ing kawruh
Kang akeh gunane
Bisane sembada tlatenana.

Rasa pangrasa winengku ing budaya. Perhatian Kraton Surakarta Hadiningrat semakin mantab pada tahun 1871. Sinuwun Paku Buwana IX mengajak warga Trenggalek untuk mengembangkan industri gula di tanah Jawa. Pada saat itu berdiri 176 pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Warga Trenggalek meniti karir di pabrik gula Colomadu, Tasikmadu, Manisharjo, Rejoagung, Purwodadi, Lestari, Mrican. Semua pabrik gula itu atas gagasan Sinuwun Sri Paku Buwana IX.

Keutamaan itu berlanjut hingga masa kini. Hubungan karaton Surakarta Hadiningrat dengan kabupaten Trenggalek berlangsung dengan selaras serasi seimbang. Desa mawa cara, negara mawa tata.

C. Para Bupati Trenggalek yang luhuring Budi

1. Adipati Taranggono Kusumo I. 1721 sampai 1748. Dilantik jaman Sinuwun Amangkurat Jawi, raja Mataram Kartasura.

2. Adipati Taranggono Kusumo II. 1748 sampai 1769. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono II, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

3. Adipati Taranggono Kusumo III. 1769 sampai 1793. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono III, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

4. Adipati Taranggono Kusumo IV. 1793 sampai 1823. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono IV, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

5. Tumenggung Joyokusumo I, 1823 sampai 1852. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono V, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

6. Tumenggung Joyokusumo II, 1852 sampai 1873. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono VII, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

7. Tumenggung Joyokusumo III, 1873 sampai 1902. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono IX, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

8. KRT Cokrokusumo I, 1902 sampai 1926. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono X, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

9. KRT Cokrokusumo II, 1926 sampai 1941. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono X, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

10. KRT Cokrokusumo III, 1943 sampai 1949. Dilantik pada jaman Sinuwun Paku Buwono XI, raja Karaton Surakarta Hadiningrat.

11. Raden Noto Soegito, tahun 1949 sampai 1950
Dilantik pada masa Presiden Soekarno.

12. R Latif 1950 sampai 1951.
Dilantik pada masa Presiden Soekarno.

13. Muprapto 1951 – 1958
Dilantik pada masa Presiden Soekarno.

14. Abdul Karim Dipo Sastro 1958 – 1960
Dilantik pada masa Presiden Soekarno.

15. Soetomo Boedi K tahun 1960 sampai 1965.
Dilantik pada masa Presiden Soekarno.

16. Hardjito 1965 – 1967
Dilantik pada masa Presiden Soekarno.

17. Muladi 1967 – 1968
Dilantik pada masa Presiden Soekarno.

18. Soetran 1968 – 1974
Dilantik pada masa Presiden Soekarno.

19. Much. Poernanto 1974 – 1975
Dilantik pada masa Presiden Soeharto.

20. Soedarso 1975 – 1985
Dilantik pada masa Presiden Soeharto.

21. Haroen Al Rasyid 1985 – 1990
Dilantik pada masa Presiden Soeharto.

22. Slamet 1990 – 1995
Dilantik pada masa Presiden Soeharto.

23. Ernomo 1995 – 2000
Dilantik pada masa Presiden Soeharto.

24. Mulyadi WR 2000 – 2005
Dilantik pada masa Presiden Abdurrahman Wahid.

25. Soeharto 2005 – 2010
Dilantik pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

26. Mulyadi WR 2010 – 2015
Dilantik pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

27. Djarianto 2015 – 2016
Dilantik pada masa Presiden Joko Widodo.

28. Emil Dardak 2016 – 2018
Dilantik pada masa Presiden Joko Widodo.

29. Mochamad Nur Arifin. Tahun 2018 sampai sekarang.  Dilantik pada jaman Presiden Joko Widodo.

D. Serat Wiwaha Jarwa Menjadi Sarana Pengembangan Budaya Adi Luhung di Kabupaten Trenggalek

Dhandhanggula

Samya cipta ugering ngajurit
Ngaubi neng asmaradilaga
Pinuja ing batin kabeh
Titi tamat ing sampun
Ping pitulas Sakban Akhadi
Karya Jeng Sri Narendra
Wiwaha winangun
Wasiyat kang tapak asta
Jeng Susunan Paku Buwana kaping Tri
Ingkang mangka pusaka.

Marang putra wayah Sri Bupati
Caritane wiku Wintaraga
Pinethik ing watek sane
Luhur darajatipun
Sabar ririh ambek basuki
Yeku minangka kutha
Linuwih pinunjul
Angunjara ing luamah
Kuwat maring beka mantep trima aris
Nugraha geng wekasan.

Iku Kembar Goraning Sabumi
Taksih wau ing mangsa Kalima
Kurantil suka anggepe
Inganggep maring ngelmu
Ora batal sayekti dadi
Inganggep maring praja
Wewengkoning wahyu
Teteping wahyu enggennya
Awit sabar maklum pamikating sakti
Ning tyas prabawaning rat.

Purwaning reh wasita tinulis
Jumungah Pon ing wulan Ramelan
Nuju sapisan tanggale
Prangbakat wukunipun
Ing Kasanga mangsa marengi
Taun Dal windonira Kuntara lumaku
Sangkalanira ingetang
Trus Putra Pandita Raja pan marengi
Siang pukul sadasa.

Srat Wiwaha kagengan Nerpati
Kang tinedhak tapak astanira
Jeng Sinuhun kang sumare
Milanipun tinurun
Apan ngalap barkat sayekti
Tan purun ngowahan
Ing wiwitanipun
Mila dinekek ing wuntat
Sengkalane kala paneratireki
Sampun sinangkalan.

Nir ing sikara Goraning Bumi
Senen Legi kaping nem tanggalnya
Rabingulakhir sasine
Mangsa akhir Kacatur
Wuku Bala taun Be nenggih
Maksih windu Kuntara
Lamine nggen nuru
Ing pitung sasi nem dina
Panulise angsal sapada ndang mari
Karya dadya wacana.

Wusnya sosotya Retna Dewati
Pan ingayap ceti munggeng ngarsa
Tebih let madya tilame
Wetan Wilotameku
Dananjaya sumiweng resmi
Tan pae lan supraba
Rengganing pangungrum,
Wusnya Retna Wilotama
Pan agantya Retna Surendra saresmi
Nutug doning asmara.

Nulya ngaler Sang Retna Warsiki
Wusnya nutug pamonging asmara
Sang retna katri kantune
Cinatur ngalih dalu
Gilirane ingkang nyatunggil
Amung Retna Supraba
Ingkang tigang dalu
Tampi ping kalih sawulan
Ngalih dalu kapitu kang widadari
Supraba tigang dina.

Tinimbalan mring Hyang Endra prapti
Anetesi nenggih pitung wulan
Dinusan marta kasekten
Parta ingatag sampun
Anginggahi kang rata manik
Kinen ngayat gandewa
Mekak talinipun
Pangayatireng gandewa
Ngamet barat panglepase kang jemparing
Binobot ingkang barat.

Samya dedelengen kang apsari
Sanggen-enggen sami onengira
Lumareng Parta dulune
Kawisasat ing dulu
Kabeh sedih binubuh agring
Sinungsung ing sungkawa
Kinawaweng lutut
Apsari kapiutangan
Mapan samya kinenan siwala resmi
Maring Sang Dananjaya.

Patang dina pitung dina maksih
Sasambate widadari samya
Kakurungan ing driyane
De Parta pesatipun
Saking Endraloka pan kadi
Yayah kapaten suta
Sumpeg sebel samun
Tyasnya parapsari Kendran
Kuneng sambat sagung para widadari
Lampahe Sang Arjuna.

Sampun prapta ing prajanireki
Cumunduk ing lena lapakanya
Sumungkem ngusap padane
Mring raka kalihipun
Ari kalih samya nungkemi
Lir mega ngemu jawah
Udan kapatipun
Sami sagung taru lata
Wiyah-wiyah suka kadang warga samwi
Tuwing wong sanegara.

Contoh tentang patriotisme Arjuna dapat dicontoh oleh sekalian generasi muda. Sebagai prajurit sejati hendaknya mempunyai sikap berani karena benar dan takut karena salah. Arjuna sebagai lelananging jagad telah berjasa memusnahkan segala bentuk angkara murka. Arjuna dalam berjuang selalu berprinsip berani karena benar, takut karena salah. Itulah membela kebenaran dan keadilan.

Sinom

Sakathahing wana griya
Ingkang kalintangan sami
Dening widadari ika
Kang munggeng ing kanan keri
Nira wau kang margi
Nanging ta datan kadulu
Dening sami kalingan
Ing ima kalingan margi
Datan awas nanging wau katingal.

Saking genira kalingan
Dening awun-awun sami
Ya ta wonten kang bramara
Paksane angingsep sari
Maduning sekar kuning
Nunten kalingan wun-awun
Sekar suwarna ika
Bramara cuwa ing kapti
Agya miber bramara marang ngawiyat.

Angambul swaraning kombang
Cuwa pangisepireki
Wonten ta kang paksi merak
Mencok ing epangireki
Kayu candana nenggih
Ngakingaken elaripun
Elaring merak ika
Kasebit pang candaneki
Denya mencok sang merak ayun-ayunan.

Mangkan ta Sang Arjuna
Ing sami myarsanireki
Ing wuwuse Sang Niwata
Enggonira anjateni
Dhateng Sang Wara Dewati
Supraba apan karungu
Dhateng ing Sang Arjuna
Sawuwuse Sang Dityaji
Wus kapungkur sawecanane Niwata.

Naskah pementasan wayang wong di Kabupaten Trenggalek tahun 1763 ini bersumber dari Serat Wiwaha Jarwa. Yasan Sinuwun Paku Buwono III, raja Surakarta Hadiningrat menjadi sarana untuk mengembangkan seni edi peni. Tokoh masyarakat Trenggalek yang berkibar di tingkat nasional selalu sadar arti penting perjalanan sejarah nenek moyang. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhuring budaya.

 

Ditulis oleh Dr Purwadi M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA, 20 Juni 2020

Check Also

Polsek Lengkong Ajak Lima Perguruan Silat Latihan Bersama

Nganjuk, HarianForum.com– Kapolsek Lengkong AKP Roni Andreas S., S.H. berharap kerukunan antar perguruan silat di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *