Powered by free wordpress themes

Friday , September 24 2021
Home / Seni Budaya / SEJARAH KABUPATEN BLITAR

Powered by free wordpress themes

SEJARAH KABUPATEN BLITAR

A. Kabupaten Balitar Bermakna Bareng Lila Murih Kawentar

Blitar atau Balitar memiliki arti filosofis yang adi luhung. Balitar berarti bareng lila murih kawentar. Semangat hidup manunggal, gotong royong, guyub rukun, samad sinamadan, sambang sambung, srawung tulung tinulung dijunjung tinggi oleh rakyat Blitar. Kebersamaan, kesahajaan, kerelaan itu yang membuat kabupaten Blitar selalu kawentar. Makna kawentar yaitu nama yang harum semerbak, menaburkan rasa ayem tentrem.

Pada tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi Prabu Kertojoyo memberi anugerah besar kepada masyarakat Blitar. Raja Daha Kediri sangat bangga atas kejujuran, keutamaan, kesetiaan, kebajikan, keteladanan, dan kemajuan. Dengan persetujuan Dewan Kerajaan Daha Kediri, Prabu Kertojoyo membangun candi Penataran. Semua biaya pembangunan candi Penataran ditanggung oleh Sinuwun Prabu Kertojoyo.

Konsep bangunan berlandaskan ajaran luhur, kama arta darma muksa. Orang hidup harus memahami wulangan wejangan wedharan. Terutama menyangkut ngelmu sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula Gusti.

Proses pembangunan candi memperhitungkan ilmu laku. Tahap-tahap pembangunan candi Penataran mengikuti pola kawruh satataning panembah. Sembah raga melibatkan warga Bakung, Benangun, Doko, Gandusari, Garum. Tahap sembah cipta melibatkan warga Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo. Tahap sembah jiwa melibatkan warga Ponggok, Sanankulon, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun. Tahap sembah rasa melibatkan warga Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, Wonotirto. Kanjeng Sinuwun berkenan hadir saat tahapan itu dimulai. Prabu Kertojoyo memang narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, memayu hayuning bawana.

Tata cara spiritual berlangsung pada tanggal 10 September 1198. Pujangga agung melakukan meditasi sempurna. Empu Darmaja memimpin doa saat dimulainya bangunan candi Penataran pada tahapan sembah raga. Kerajaan Daha Kediri mengutus Empu Sedah pada tahap pembangunan sembah cipta. Pada tahap sembah jiwa Prabu Kertojoyo mengutus Empu Panuluh. Pada tahap sembah rasa, ketiga begawan itu hadir untuk memberi doa restu. Beliau pujangga bertiga itu bersemedi di Sanggar Pamelengan.

Kukuse dupa kumelun
Ngeningken tyas sang apekik
Kawengku sagung jajakan
Nanging sanget angikibi
Sang resi Kanekaputra
Kang anjog saking wiyati.

Kegiatan nyadran di candi Penataran dilakukan trah Prabu Joyo Lengkoro pada tiap bulan Ruwah. Keturunan Prabu Joyoboyo, Kameswara, Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun rutin mengadakan wilujengan. Mereka berusaha nguri-uri tradisi adat nenek moyang. Kegiatan spiritual ini dalam rangka mikul dhuwur mendhem jero. Anak cucu warga istana Daha, Kediri, Jenggala, Panjalu menjadikan candi Penataran sebagai pusat kosmos. Candi Penataran merupakan bentuk menyatunya jagad gumelar dan jagad gumulung.

Maharani Ken Dedes yang bergelar Sri Ratu Pradnya Paramitha sowan nyekar di candi Penataran tahun 1225. Garwa prameswari Sri Rajasa Amurwabhumi kerajaan Singosari menghormati arwah para leluhur ingkang sampun manjing ing tepet suci, surud ing kasidan jati, mapan swarga loka. Dengan harapan segala kawidadan, kawibawan, kamulyan, kabagyan, lan karaharjan turun temurun sampai anak cucu. Bapa truka, anak penak, putu nemu manggih suka basuki.

Pendiri dan raja pertama Kraton Majapahit bernama Raden Wijaya. Beliau wafat pada tahun 1309. Para istri Raden Wijaya yaitu Tribuana Hiswari, Gayatri, Dara Petak sepakat memuliakan abu Raden Wijaya di candi Penataran. Raja Majapahit berikutnya adalah Kanjeng Sinuwun Prabu Joyonagoro. Pada jaman pemerintahan Prabu Joyonagoro yang bijak bestari ini candi Penataran dipugar menjadi lebih indah, megah dan mewah. Keluarga kraton Majapahit wajib berdarma bakti kepada leluhur, yang sudah cinandhi ing ngawiyat.

Pemugaran candi Penataran diresmikan oleh Prabu Joyonagoro raja Majapahit pada hari Minggu Pahing 1246 Saka atau tanggal 5 Agustus 1324. Para bupati Bang Wetan, Bang Kulon, dan Pesisir turut diundang.

Keturunan kerajaan Medang, Kahuripan, Jenggala, Daha, Kediri, Panjalu mendapat kursi kehormatan. Keluarga kraton Singosari malah dilibatkan dalam kepanitiaan. Ini merupakan sikap humanis Prabu Joyonagoro. Beliau hormat tamu, peduli nasib sesama, suka menolong. Kalau ada bencana alam, Prabu Joyonagoro tampil di depan untuk mengirim bantuan. Prabu Joyonagoro sungguh luhur ing budi.

Demi menjaga keseimbangan batin, para raja Majapahit pengganti Prabu Joyonagoro tetap melakukan tata cara adat. Misalnya pada tahun 1332 Tribuana Tunggadewi menjalankan tapa kungkum di kaki gunung Arjuno, sebagai hulu Kali Brantas. Pelan-pelan dilanjutkan dengan tapa ngeli. Kanjeng Sinuwun Putri Tribuana Tunggadewi juga mahas ing ngasepi, lara lapa tapa brata di gunung Kelud.

Anelasak wana wasa
Tumuruning jurang terbis
Kang ri bandhil bebondhotan
Ginubet penjalin cacing
Wau ta Raja putri
Gumregut sangsaya sengkut
Sayekti datan nyipta
Pringga bayaning wanadri
Apan nyata narendra bawa laksana.

Maharaja Majapahit Prabu Hayamwuruk memerintah tahun 1350 – 1386. Kunjungan kenegaraan Prabu Hayamwuruk di candi Penataran Blitar tahun 1351 dengan rombongan lengkap.

Ikut pula para pujangga Majapahit yang termashur, yaitu Empu Tantular dan Empu Prapanca. Bertempat di pendopo teras candi. Empu Tantular memberi wejangan tentang isi kitab Sutasoma. Rakyat Blitar merasa mendapat siraman rohani. Sedangkan Empu Prapanca memberi wedharan tentang arti penting hidup dalam keberagaman. Perbedaan suku, agama, bahasa dan adat istiadat harus dihormati. Empu Tantular menguraikan isi kitab Negara Kertagama, terutama kutipan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.

Pejabat Majapahit memberi tetenger saat Prabu Hayamwuruk wafat dengan dibangunnya candi Naga. Penghormatan ini disertai sengkalan Naga Muluk Sinangga Jalma atau 1208 Saka atau 1386 Masehi.

Jasa Prabu Hayamwuruk bagi masyarakat Blitar sungguh besar. Prabu Brawijaya setiap tahun menyelenggarakan upacara Sarada di candi Penataran. Segenap pembesar Kerajaan Majapahit harus melakukan ritual di candi Penataran.

B. Perjalanan Kabupaten Blitar Sebagai Pewaris Kebudayaan Agung

Kasultanan Demak Bintoro berdiri pada tahun 1480. Rajanya bernama Raden Patah, putra Prabu Brawijaya V. Berdirinya kerajaan Demak Bintoro didukung oleh Wali Sanga. Untuk wilayah Blitar diutuslah murid Kanjeng Sunan Kalijaga, yang berguru di Kadilangu. Beliau adalah Ahmad Karim yang berasal dari kawasan Gunung Tidar. Ahmad Karim masih keturunan Syekh Subakir Tidar. Masyarakat Blitar lantas menyebut Ahmad Karim dengan nama Syekh Subakir Kelud.

Penyebaran agama yang dilakukan oleh Syekh Subakir mengikuti jejak Wali Sanga. Kanjeng Sunan Kalijaga memberi wulangan kepada Ahmad Karim atau Syekh Subakir Kelud. Berdakwah sebaiknya menggunakan jalur kebudayaan. Wayang digunakan sebagai media dakwah Islamiyah yang murah, ramah, mewah dan indah. Lakon favorit rakyat Blitar berasal dari cerita Ramayana dan Mahabarata.

Bahkan Syekh Subakir memiliki seperangkat gamelan dan wayang di Pendopo Nglegok. Gamelan laras pelog slendro dipesan dari Bekonang kaki gunung Lawu. Suaranya nyaring merdu. Wayang sekotak dibeli dari Kedungbanteng Sragen. Semua menggunakan prada emas. Pertama kali dipentaskan dengan mengambil lakon Jamus Kalimasada. Pagelaran ini dilakukan oleh Ki Dalang Gondo Buwono dari Dolopo Madiun. Lakon Jamus Kalimasada ini melambangkan ikrar dua kalimat syahadat. Pentas wayang ini digelar pada tahun 1512, saat menyambut datangnya bulan Suro.

Sejak tahun 1546 wilayah Blitar masuk binaan Kasultanan Pajang. Rajanya adalah Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Tokoh masyarakat Blitar yang pernah hidup di daerah Pengging adalah Ki Ageng Sengguruh. Beliau pernah nyantrik pada Ki Ageng Butuh di Sragen. Komunitas Butuh pewaris ajaran Syekh Siti Jenar di padepokan Lemah Bang. Mereka mempelajari ngelmu makrifat sejati. Ajaran kawruh sejati ini berkembang di daerah Blitar Selatan. Penganut ngelmu sangkan paraning dumadi ini jumlahnya banyak. Sumber ajaran Syekh Siti Jenar adalah wahdatul wujud atau manunggaling kawula Gusti.

Penghayat kejawen ini diwariskan kepada Joko Kadung. Mereka mendirikan padepokan yang menyebarkan ilmu roso jati di sepanjang aliran Kali Brantas. Sedangkan adiknya seorang putri yang bernama Dewi Rayung Wulan menjadi guru kebatinan di daerah Serut Lodoyo. Perguruan Serut Lodoyo mempunyai murid wanita yang tinggal di asrama. Banyak putri bupati yang dididik di Padepokan Serut Lodoyo yang diasah oleh Dewi Rayung Wulan.

Peristiwa sejarah cemerlang yang membahagiakan terjadi pada bulan Maret 1687. Sinuwun Amangkurat Amral berkunjung ke wilayah Blitar. Beliau mendukung kegiatan tani di wilayah Blitar selatan. Raja Mataram Kartasura yang bertahta tahun 1677 – 1705 ini membantu petani untuk menanam ketela, pohong, jagung dan jati. Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral lahir dan dibesarkan di Surabaya. Sewaktu kecil suka bermain di candi Penataran untuk sekedar belajar sejarah kebudayaan.

Sinuwun Amangkurat Amral cucu Pangeran Pekik, bupati Surabaya. Nama kecilnya Raden Rahmat. Pangeran Pekik memiliki kebun tembakau yang luas di Blitar. Hubungan Pangeran Pekik dengan warga Blitar amat dekat. Ketika Raden Rahmad menjadi raja Mataram, banyak warga Blitar yang menjadi pegawai istana kraton Mataram di Kartasura. Orang Blitar menjadi tokoh penting di Mataram.

Hubungan baik antara rakyat Blitar dengan negeri Mataram Kartasura membuahkan hasil. Sinuwun Amangkurat Amral membangun waduk Serut, waduk Lodoyo, waduk Wlingi dan waduk Selorejo. Tentu sangat berguna untuk irigasi para petani. Bahkan pada tahun 1698 Blitar dijadikan sentra penghasil Kaolin. Demikian pula raja Mataram turut membangun indahnya pantai Tambakrejo, Serang dan Jalasutra.

Sekali tempo Kanjeng Sinuwun Amangkurat Amral mengajak tim pegawai kadipaten Surabaya berkunjung ke Blitar, sekedar untuk ngenggar ing penggalih.

Ketika karaton Mataram Kartasura diperintah oleh Sinuwun Amangkurat Mas tahun 1703 – 1708. Blitar mendapat hadiah ukir-ukiran kayu jati dari Jepara. Pemuda-pemudi Blitar diajak ke Lasem Rembang untuk kursus membuat trasi. Waktu itu trasi menjadi komoditas mahal dan handal sebagian warga Blitar lantas tinggal di Lasem Rembang. Untuk soal kuliner ibu-ibu dari Blitar diajak untuk kursus membuat sego liwet di Baki. Ada lagi ibu-ibu yang belajar Batik di daerah Laweyan.

Raja Mataram menghendaki rakyat Blitar hidup sejahtera lahir batin. Pada tahun 1745 terjadi perpindahan ibukota Mataram dari Kartasura ke Surakarta. Kanjeng Sinuwun Paku Buwono II mengundang ahli bangunan Blitar untuk turut serta terlibat dalam pembangunan karaton Surakarta Hadiningrat. Mereka tergabung dalam tim Tumenggung Honggowongso. Arsitek karaton Surakarta Hadiningrat ini memberi tugas untuk mencari marmer berkualitas bagus di Tulungagung. Pekerjaan warga Blitar ini sangat menyenangkan Tumenggung Honggowongso yang menjadi pimpinan proyek pembangunan istana. Warga Blitar memiliki ajaran luhur, lila lan legawa kanggo mulyane negara.

Dene utamaning nata
Ber budi bawa laksana
Lire kang berbudi mangkana
Anggeganjar saben dina
Agung nggennya paring dana
Dene kang bawa laksana
Anetepi pangandika.

Status kabupaten Blitar semakin mantap. Pada tahun 1831 Kanjeng Sinuwun Paku Buwono VII menetapkan Blitar sebagai kabupaten otonom. Pejabat bupati diserahkan kepada Raden Mas Aryo Ronggo Hadinagoro, SK penetapan diberikan langsung oleh Patih KRA Sosrodiningrat II. Rakyat Blitar mendapat kehormatan tingkat tinggi. Kabupaten Blitar semakin arum kuncara ngejayeng jagad raya.

Pada tahun 1872 Sinuwun Paku Buwono IX memberi pembinaan kepada masyarakat Blitar. Sepanjang lereng gunung Kelud dikerjakan budi daya kebun teh. Untuk dataran Blitar dikerjakan budidaya tembakau. Demi kelancaran barang dan jasa pada tanggal 16 Juni 1884 karaton Surakarta membangun jalan rel dan stasiun kereta api Blitar. Sejak itu warga Blitar mudah bepergian ke seluruh kawasan tanah Jawa. Sinten numpak sepur, mbayare setali. Sinten pengin makmur monggo dhateng ngriki.

C. Para Bupati Blitar yang Berbakti kepada Nusa Bangsa dan Negara

1. RM Aryo Ronggo Hadinagoro 1831 – 1866
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

2. KPH Warsokusumo 1866 – 1896
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

3. KPH Sosrohadinagoro 1896 – 1917
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

4. KPH Warsohadiningrat 1917 – 1941
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

5. RM Harsoyo 1941 – 1942
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

6. RMT Priyambodo 1942 – 1943
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

7. RM Santoso Harsono 1943 – 1944
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono XI, raja kraton Surakarta Hadiningrat.

8. RM Samadikun 1944 – 1945
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

9. RM Darmadi 1945 – 1947
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

10. RM Sunaryo 1947 – 1950
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

11. RM Darman 1950 – 1956
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

12. Slamet Puspodiwiryo 1956 – 1957
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

13. Ismaun Danu Susastro 1957 – 1958
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

14. Adiman 1958 – 1960
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

15. Sumarsono 1960 – 1965
Dilantik pada jaman pemerintahan Soekarno.

16. Sanuri Prawirodiharjo 1965 – 1974
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

17. Utomo 1974 – 1975
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

18. Eddy Slamet 1975 – 1980
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

19. Saryono 1980 – 1985
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

20. Drs. Siswanto Adi 1986 – 1996
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

21. Bambang Sukotjo, SH 1996 – 2001
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

22. Drs. Imam Muhadi 2001 – 2006
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Megawati.

23. Herry Nugroho, SH 2006 – 2016
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

24. Drs. Riyanto 2016 – 2021
Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Joko Widodo.

 

D. Wulang Wuruk Serat Wulangreh bagi Masyarakat Blitar

Gambuh Ping Catur

Sekar gambuh ping catur,
kang cinatur polah kang kelantur,
tanpa tutur katula-tula katali,
kadalu-warsa katutuh,
kapatuh pan dadi awon.

Aja nganti kabanjur,
sabarang polah kang nora jujur,
yen kabanjur sayekti kojur tan becik,
becik ngupayaa iku,
ing pitutur kang sayektos.

Tutur bener puniku,
sayektine apantes tiniru,
nadyan metu saking wong sudra papeki,
lamun becik nggone muruk,
iku pantes sira anggo.

Ana pocapanipun,
adiguna adigang adigung,
pan adigang kidang adigung pan esthi,
adiguna ula iku,
telu pisan mati sampyoh.

Si Kidang umbagipun,
ngendelaken kebat lumpatipun,
pan si gajah ngendelaken ageng inggil,
ula ngendelaken iku,
mandine kalamun nyakot.

Iku upaminipun,
aja ngendelaken sira iku,
suteng Nata iya sapa kumawani,
iku ambeg wong adigung,
ing wasana dadi asor.

Adiguna puniku,
ngendelaken kapinteranipun,
samubarang kabisan dipun dheweki,
sapa bisa kaya ingsun,
toging prana nora enjoh.

Ambeg adigang iku,
ngongasaken ing karosanipun,
para tantang candhala anyenyampahi,
tinemenan nora pecus,
atemahan dadi guyon.

Ing wong ngurip puniku,
aja nganggo ambeg kang tetelu,
anganggowa rereh ririh ngati-ati,
den kawangwang barang laku,
kang waskitha solah ing wong.
Dene tetelu iku,
si kidang suka ing patinipun,
pan si gajah alena patinireki,
si ula ing patinipun,
ngandelaken upas mandos.

Tetelu nora patut,
yen tiniru mapan dadi luput,
titikane wang anom kurang wewadi,
bungah akeh wong kang nggunggung,
wekasane kajelomprong.

Etika serat Wulangreh menganjurkan agar seseorang menghindari sifat adigang, adigung, adiguna. Adigang mengandalkan kekuatan fisik. Diibaratkan kijang yang memamerkan kecepatan dalam melompat. Adigung adalah sifat yang mengedepankan badan besar. Seperti hewan gajah. Adiguna mengutamakan kepintaran, layaknya ular berbisa. Ketiganya tidak perlu ditiru. Supaya selamat lebih baik berbuat kebajikan dengan sukarela.

Sifat congkak, sombong dan tinggi diri dijauhi oleh teman. Sebaiknya tetap rendah hati dan menjunjung tata krama. Tembang ini sangat populer di kalangan masyarakat Blitar sebagai sarana pembinaan mental spiritual.

Blitar Kawentar

Blitar kutha cilik sing kawentar,
Edi peni Gunung Kelud sing ngayomi
Blitar jaman Jepang nate gempar,
PETA brontak sing dipimpin Supriyadi

Blitar nyimpen awune sang nata,
Majapahit aneng Candhi Penataran
Blitar nyimpen layone Bung Karno,
Proklamator lan presiden kang sepisanan

Ana crita jare Patih Gajah Mada,
kang wus bisa nyawijekke nuswantara
Yen ta banyu nuwuhake patriote,
Yen ta geni ngurubake semangate

Lagu Blitar mengandung ajaran patriotisme, nasionalisme dan kesadaran historis yang telah diwariskan secara turun temurun. Nilai kepahlawanan, kebangsaan, keteladanan dan keutamaan hendaknya diresapi oleh generasi muda dalam rangka hidup berbangsa dan bernegara.

Mari kita contoh semangat para pahlawan. Sambil berwisata untuk melihat candi Penataran di bawah kaki gunung Kelud. Dari sumber gunung Kelud ini, airnya mengalir di sungai Brantas yang berguna untuk pertanian. Kabupaten Blitar mewujudkan diri sebagai negeri kang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

 

Ditulis oleh Dr. Purwadi, M.Hum, Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (LOKANTARA). Jl. Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta, 24 Juni 2020.

Check Also

Sejarah Kraton Jenggala

  A. Leluhur Kraton Jenggala. Kerajaan Jenggala telah berhasil menata peradaban Jawa. Dalam kurun waktu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *