Powered by free wordpress themes

Sunday , March 7 2021
Home / Seni Budaya / Sejarah Gunung Wilis Tempat Semedi Prabu Jayabaya

Powered by free wordpress themes

Sejarah Gunung Wilis Tempat Semedi Prabu Jayabaya

 

A. Daya Linuwih Gunung Wilis

Gunung Wilis sejak dulu kala digunakan sebagai tempat meditasi bagi kalangan kraton di Jawa. Misalnya Prabu Jayabaya kerap tetirah di grojogan Seduda Sawahan yang berada di lingkungan Gunung Wilis. Patih Gajahmada melakukan tapa brata di daerah Ngliman. Prabu Brawijaya menjalankan lelaku di daerah Bajulan.

Sebegitu pentingnya kawasan gunung Wilis sebagai tempat untuk menjalankan kegiatan spiritual, maka peranannya sangat berpengaruh pada sejarah. Pada tahun 1979, Ki Panut Darmoko menciptakan lelagon Nganjuk Mranani dengan setting Gunung Wilis dan Gunung Pandan. Keindahan alam dilukiskan dengan amat asri.

Kutha cilik sangisore Gunung Wilis
iku pantes dadi pecangkramaning pra turis
yo kanca ning Seduda ing perenging arga
lelumban lan byur-byuran weh bagasing raga
rampung njajan nginep neng pesanggrahan
wis mesthi kepranan nyawang kaendahan
Jo lali jo keri kutha Nganjuk mranani

Orang Nganjuk menyebut Gunung Wilis dengan nama Gunung Kidul. Para penduduknya disebut dengan brang kidul. Seolah-olah buat orang tidak pernah bepergian, Gunung Wilis dan sekitarnya itu sudah tampak sangat jauh. Meskipun dengan kampung halaman saya letaknya agak jauh, namun Gunung Wilis tampak jelas punggungnya. Besar, gagah, biru dan sangat menawan hati. Bagi mereka yang mendaki Gunung Wilis pasti bakal ketemu dengan Grojogan Sewu yang terkenal dengan nama Air Terjun Sedhudha.

“Ada kepercayaan bahwa siapa saja yang mandi di Grojogan Sedhudha akan selalu awet muda.”

Kata Mbak Endang Puji Lestari, alumni SMAN 2 tahun 1990 yang menjadi petugas perpustakaan Pemda. Dia dulu menjadi penari gambyong yang memukau.

Ludruk adalah seni khas Jawa Timur. Ada rombongan ludruk yang amat populer. Namanya Ludruk Kopasgat Trisula Dharma. Ludruk Kopasgat Trisula Darma terkenal sekali di Jawa Timur sekitar tahun 1970-1980-an. Markas ludruk ini di Kabupaten Madiun. Sebulan sekali siaran di RRI. Rombongan Ludruk ini dibawah binaan kesatuan TNI AU yang berdomisili di Maespati. Kopasgat singkatan dari Komando Pasukan Gerak Tepat. Memang para personil yang ikut mendukung pentas Ludruk Kopasgat kebanyakan berasal dari artis-artis sekaligus tentara. Saat itu tentara memang bisa jaya dan sukses di segala bidang. Di samping itu juga karena semangat korp militer yang sangat solid. Dalam bidang seni pun kiprahnya juga cukup meyakinkan dan mengagumkan masyarakat.

Pemainnya serba terpilih, iringan karawitan juga sangat bagus disertai dengan teknik pemanggungan modern. Saat jaya-jayanya Ludruk Kopasgat di pelosok desa belum ada lampu penerangan listrik. Di mana saja ketika Ludruk Kopasgat pentas, dari segala penjuru akan berduyun-duyun menonton. Orang akan berebut tempat. Hampir bisa dipastikan semua penonton akan puas. Maka, meskipun jauh tempatnya, orang juga tidak malas menyaksikan.

Belajar kesenian sungguh sangat menyenangkan. Boleh jadi karena pengaruh pentas ludruk Kopasgat Trisula Darma, yang populer di Nganjuk. Setiap hari tiada henti tanggapan. Sebulan sekali siaran di RRI Madiun, bergantian dengan Ludruk Enggal Trisno. Kemudian disusul Ludruk Mahamurni dan Sarimurni dari Jombang. Dari Nganjuk sendiri berdiri paguyuban Ludruk Panca Marga.

Dagelan seperti Bagio, Kolik, Klowor, Gombloh, Gimo dan Sandiyo membuat kesengsem masyarakat. Tidak ketinggalan Ludruk RRI dengan tokohnya Cak Kancil dan Ludruk Sidik Cs yang aktif menjadi iklan Mixagrip dan Oskadon. Ludruk ini pentas dan siaran, di radio setiap hari. Bahkan tiap jam siaran ini bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Bentuk sejenis seni Tobong yaitu Kethoprak Siswo Budoyo yang terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di bawah kepemimpinan Ki Siswondo kethoprak ini berjaya. Garapannya bagus dan hidup. Berkat kerja keras Ki Siswondo muncul tokoh dan bintang kethoprak. Disebut saja Jogelo, Jorono dan Joisin. Sekali tempo siaran di TVRI Surabaya. Lakonnya Aryo Penangsang Mbalelo.

Seiring dengan berkembangnya Ludruk dan Kethoprak, tak ketinggalan seni langen tayub. Hajad mantu, sepasaran bayi dan tetakan akan terhormat dengan nanggap tayuban. Siang hari uyon-uyon, malamnya among beksa. Bintang tayub yaitu Sumiati, Sumiatun, Painem dan Taminah. Mereka adalah seniman Kledhek yang menjadi kebanggaan bapak-bapak di karang padesan.

Bocah Gunung

Nadyan aku bocah gunung
Doh banget dunungku
Ora usah ndadak nganggo bingung
Yen ta pancen tresna aku

Pancen isih dadi lakon
Ninggalke sliramu
Ra orane yen bakal kelakon
Pepisahan karo aku

Muga-muga aja nganti gawe gela
Nga dinunga tinebehna ing rubeda
Ala yo mas – yo mas yo mas

Apa kowe ra kelingan
Dolan neng omahku
Aneng latar padha lelungguhan
Geguyonan karo aku

Bagi penguasa Jakarta, Kabupaten Kediri dianggap gawat kaliwat liwat, angker kepati Pati. Sampai sekarang wilayah Kediri dipercaya sebagai daerah yang wingit, angker kepati pati. Selamanya tidak ada Presiden Indonesia yang berani datang di wilayah Kediri. Presiden RI selalu merasa sor prebawa, kalah awu dengan pimpinan Kediri.

Sikap hidup masyarakat Kediri pasti berkait dengan sejarah leluhur. Mereka bangga dengan sejarah masa silam. Daftar priyagung yang pernah memimpin Kediri, dicatat dengan tinta emas.

1. Adipati Cakraningrat I, 1832 – 1846. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono Vll.

2. Adipati Cakraningrat II, 1846 – 1862. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono Vll.

3. Adipati Cakraningrat III, 1862 – 1870. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono lX.

4. Adipati Cakraningrat IV, 1870 – 1894. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono lX.

5. Adipati Cakraningrat V, 1894 – 1906. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono X.

6. Adipati Cakrakusuma I, 1906 – 1917. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono X.

7. Adipati Cakrakusuma II, 1917 – 1926. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono X.

8. Adipati Cakrakusuma III, 1926 – 1940. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono X.

9. Adipati Cakrakusuma IV, 1940 – 1945. Dilantik pada jaman kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya bernama Sinuwun Paku Buwono XI.

10. R. Soeprapto 1945 – 1950. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

11. R. Dwidjo Soemarto 1950 – 1960. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

12. R. Soedjono 1960 – 1966. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

13. Hartojo 1966 – 1968. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soekarno.

14. Anwar Zainuddin 1968 – 1973. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

15. Drs. Soedarmanto 1973 – 1978. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

16. Drs. Setijono 1978-1989. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

17. Drs. Wijoto 1989-1999. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Soeharto.

18. Drs. HA Maschut 1999 – 2009. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Habibie.
19. Dr. Samsul Ashar 2009-2014. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
20. Abdullah Abu Bakar 2014 – 2019. Dilantik pada jaman pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Wilayah Kediri memiliki pemimpin yang unggul. Pada tanggal 25 Maret 1832 Kanjeng Raden Tumenggung Adipati Cakraningrat I ditetapkan sebagai Bupati Kediri. Beliau diangkat oleh Sinuwun Paku Buwono VII, raja Karaton Surakarta Hadiningrat. Patihnya bernama KRA Sasradiningrat I. Saat pelantikan berkumandang gendhing Carabalen dan gendhing monggang.

Hubungan erat dengan Karaton Surakarta Hadiningrat diperkokoh dengan tali pernikahan. Adipati Cakraningrat I memiliki putri cantik. Namanya Raden Ajeng Gombak. Beliau istri pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita. Keduanya dimakamkan di Palar Trucuk Klaten. Pujangga agung Karaton Surakarta Hadiningrat ini menulis serat kalatidha, crmporet, witaradya dan Pustaka Raja Purwa.

Kabupaten Kediri tampil ramah, murah, mudah bagi sekalian warga. Berkat kepemimpinan yang ayem ayom, guyub rukun. Bupati yang memimpin Kediri sampai tahun 2020 adalah dr Hj Haryanti Soetrisno. Wakil Bupati adalah Drs H. Masykuri MM.

Sejarah Kediri yang gemilang itu sudah berlangsung berabad abad. Keselarasan hidup diutamakan, demi tertibnya jagad gumelar lan jagad gumulung. Orang Kediri menjunjung tinggi prinsip desa mawa cara, negara mawa tata.

B. Prabu Gendrayana Leluhur Raja Kediri

Prabu Gendrayana memerintah kerajaan Kediri sejak tahun 325. Kerajaan Kediri tampil sebagai negara panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Etike kepemimpinan yang dipegang teguh oleh Prabu Gendrayana berdasarkan paugeran. Prabu Gendrayana adalah narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, ber budi bawa laksana, memayu hayuning bawana. Rakyat Kediri yang tinggal di sekitar Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Klothok merasa ayem tentrem lahir batin.

Keluhuran kerajaan Kediri terkenal di mana-mana. Pada tahun 357 Prabu Gendrayana lengser keprabon madeg pandhita. Tahta diserahkan kepada ingkang putra Prabu Yudhayana. Seperti sang ayah, Prabu Yudhayana memimpin kerajaan Kediri dengan penuh kebijaksanaan.

Jumenengan Prabu Yudhayana di kerajaan Kediri dihadiri oleh abdi dalem. Mereka berasal dari Ngawi, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Blitar, Jombang, Tulungagung, Mojokerto. Hadir pula segenap bupati pesisir, Bang Wetan dan Bang Kulon.

Semakin hari kerajaan Kediri bertambah arum kuncara ngejayeng jagat raya. Negeri manca sampai kayungyun pepoyaning kautaman. Bebasan kang cerak menglung, kang tebih mentiung. Sami pasok glondhong pengareng-areng, peni-peni raja peni, guru bakal guru dadi, emas picis raja brana.

Puncak kejayaan itu membuat bahagia semua pihak. Pada tahun 386 tahta kerajaan Kediri diserahkan kepada putra Yudhayaa. Dia bernama Prabu Jaya Purusa. Sejak muda prabu Jaya Purusa gemar tapa brata ditengah alas gung liwang liwung. Prabu Jaya Purusa sering tapa ngebleng, tapa mutih, tapa ngidang, tapa ngalong, tapa nggantung, tapa pendhem, tapa ngrame.

Prabu Jaya Purusa menjadi raja yang sakti mandraguna. Perlindungan pada seluruh rakyat diwujudkan dengan laku prihatin, cegah dhahar lawan guling. Pada tingkat tertentu Prabu Jaya Purusa boleh dikatakan sebagai jalma sulaksana. Waskitha ngerti sakdurunge winarah.

Kediri benar-benar negeri aman damai. Padi, jagung, ketela pohung panen berlimpah ruah. Bahan makanan disimpan di lumbung kerajaan. Kedelai, kacang merupakan tanaman palawija. Sayur kubis, kentang, bayam, kangkung, terong, buncis, godhe, loncang tumbuh di sembarang tempat. Bahan makanan disimpan untuk menghadapi masa paceklik.

Hama menyingkir jauh, penyakit tak berani menyerang, pageblug hilang sendiri. Itu akibat kesaktian Prabu Jaya Purusa yang bijak bestari. Kawula dan punggawa manunggal cipta rasa karsa. Semua mendukung kepemimpinan Prabu Jaya Purusa. Keamanan dan ketentramant terwujud.

Kesaktian Prabu Jaya Purusa dipuji warga. Para abdi nujum dan pujangga istana memberi gelar kehormatan kepada Prabu Jaya Purusa. Dengan sebutan gelar Sinuwun Prabu Jayabaya. Bahkan gelar Jayabaya jauh lebih tenar.

Lara lapa tapa brata sarana pembinaan untuk mengasah ketajaman spiritual. Prabu Jayabaya mendidik tiga putra kinasih. Ketiganya yaitu Raden Jaya Amijaya, Raden Jaya Amisena, Raden Jaya Aminata. Putra raja Kediri ini menjalankan ilmu laku, gentur tapane, mateng semadine.

Raden Jaya Amijaya menikah dengan Dewi Pramesthi. Dinobatkan sebagai raja di Kraton Jenggala. Raden Jaya Amisena menikah dengan Dewi Pramoni. Dinobatkan sebagai raja di Kraton Daha. Raden Jaya Aminata menikah dengan Dewi Susenti. Dinobatkan menjadi raja di Kraton Pengging, bergelar Prabu Kusuma Wicitra tahun 423.

Keturunan Prabu Jayabaya senantiasa menjalankan lelaku. Yakni unggah ungguhing basa, kasar alusing rasa, jugar genturing tapa.

C. Jangka Ramalan Prabu Jayabaya

Kali ilang kedhunge pasar ilang kumandhange. Begitu ramalan Prabu Jayabaya dalam membaca owah gingsire jaman. Sang Prabu adalah raja Kraton Kediri yang waskitho ngerti sakdurunge winarah. Prabu Jayabaya memang narendro agung binathoro mbahu dhendho nyokrowati, ambeg adil paramarta, memayu hayune bawana.

Dalam memerintah kerajaan Kediri yang beribukota di Dahono Puro, Sang Prabu selalu menjunjung tinggi etika ber budi bowo laksono. Wilayah kerajaan Kediri sangat luas, maka diperlukan sikap konsekwen dan konsisten. Satunya kata dan perbuatan. Dapat diibaratkan sebagai pemimpin yang kinasih ing dewa, kinawula ing widodari.

Pujangga kerajaan Kediri dijadikan pandam pandom panduming dumadi. Prabu Jayabaya memperhatikan nasihat Empu Sedah, Empu Panuluh dan Empu Darmojo. Empu Sedah mengajarkan ilmu sangkan paraning dumadi. Empu Panuluh memberi kawruh joyo kawijayan guno kasantikan. Empu Darmojo memberi wedharan tata praja. Wulangan wejangan wedharan sarjono winasis itu dihayati oleh Sri Baginda. Prabu Jayabaya bisa tampil sebagai pemimpin yang ambeg adil poromarto.

Leluhur raja Kediri senantiasa amemangun karyenak tyasing sesama. Seperti eyangnya Prabu Jayabaya yang bernama Sinuwun Prabu Kamesworo. Sang kakek memberi contoh diplomasi dengan negeri di Asia Selatan, Asia Barat dan Asia Timur. Bahkan pada tahun 1105 Prabu Kamesworo mendatangkan guru agama dari Negeri Mesir. Namanya Haji Syekh Syamsujen. Kelak menjadi guru spiritual Prabu Jayabaya. Agomo ageming aji sebagai landasan ajaran memayu hayuning bawono. Artinya membuat dunia selalu adil aman damai.

Prabu Jayabaya raja Kediri yang terkenal memiliki doyo linuwih. Haji Syekh Syamsujen mengajari loro lopo topo broto. Sang Prabu biasa topo kungkum, topo pendhem, topo gantung, topo ngrowot, topo mutih. Kadang kadang juga menjalankan lelaku mirip sato kewan. Yakni topo ngalong, topo ngidang, topo ngiwak. Pada bulan Suro Sri Baginda tak lupa lelaku nggenioro mbanyuoro.

Pada bulan ruwah Prabu Jayabaya melakukan topo ngrawe, yaitu berusaha menyenangkan orang banyak. Berkat didikan Haji Syekh Syamsujen itu pula, Prabu Jayabaya menjadi raja yang putus ing reh saniskoro. Sang Prabu tahu unggah ungguhing boso, kasar alusing roso, jugar genturing topo. Poro kawulo yang tinggal di kutho ngakutho, deso ngadeso, gunung ngagunung sangat hormat dan berbakti. Kraton Kahuripan, Kraton Jenggolo, Kraton Singosari menjalin persahabatan lahir batin.

Demi eratnya kekeluargaan, Retno Sedhah Mirah, putri Prabu Jayabaya dijodohkan. Cucu Sekartaji yang cantik jelita ini dinikahkan dengan Prabu Ronggowuni raja Singosari. Kerajaan Kediri dan Singosari terikat oleh tali perkawinan. Usaha demikian dalam rangka untuk mewujudkan kumpule balung pisah. Kepribadian Prabu Jayabaya sungguh paripurna. Kebijakan raja Kediri ini Khalifah Bagdad mengirim delegasi untuk berkunjung ke Kraton Kediri.

Tim dari Bani Umyyah Irak ini belajar sistem irigasi Kali Brantas. Keluhuran budi Prabu Jayabaya membikin bangsa manca mau bersahabat erat. Tiap saat mereka pasok bulu bekti yang berupa glondhong pangareng areng. Sebagian lagi caos peni peni rojo peni, guru bakal guru dadi, emas picis rojobrono. Bebasane kang cerak mangklung, kang adoh mentiyung. Karana kayungyun marang pepoyane kautaman.

Kanjeng Sinuwun Prabu Jayabaya memberi ramalan tentang jenis jenis jaman. Ramalan Prabu Jayabaya selalu tepat. Ada empat jaman, yaitu jaman Kartoyugo, jaman Partoyugo, jaman Kaliyugo, kali Sengoro.

1. Jaman Kartoyugo
Pada jaman Kartoyugo ini bumi nusantara adil makmur, murah sandang pangan papan. Sawah luas, sungai mengalir, hutan hijau, gunung biru.

Terjadi pada masa kerajaan Medang, Kahuripan, Singosari, Jenggolo, Doho, Kediri dan Majapahit. Pemimpin dan rakyat bersatu padu. Tanah Jawa bisa mewujudkan prinsip manunggaling kawulo Gusti.

2. Jaman Partoyugo
Pada jaman Partoyugo ini tanah Jawa semakin moncer. Terjadi pada masa kerajaan Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman. Tanah Jawa memiliki budaya adi luhung, seni edi peni. Budaya adi luhung berhubungan dengan nilai filosofis atau pemikiran. Seni edi peni berhubungan dengan nilai estetis atau keindahan.

Tokohnya Kyai Yosodipuro, Ronggowarsito, Paku Buwono dan Mangkunagoro. Mereka adalah pujangga besar yang mewariskan peradaban. Rum kuncaraning bongso, dumunung ing luhuring budoyo.

3. Jaman Kaliyugo
Pada jaman ini bumi nusantara diganggu oleh pemimpin palsu. Tiap menjelang pemilihan umum, mereka mendekati rakyat. Ngalor ngidul mau membela rakyat. Sekolah akan gratis, berobat akan gratis. Demi ambisi kekuasaan, tak segan segan sogok sana sini. Setelah berhasil menjabat, mereka lupa laut darat.

JamanPemimpin gadungan ini biasa omong mencla mencle. Usuk omong dhele, sore dadi tempe. Jaman Kaliyugo orang suka melanggar tata krama.

4. Jaman Kalisengoro
Pada jaman Kalisengoro ini banyak sekali berita hoax seliweran. Orang berbohong dengan media sosial. Informasi dan teknologi jadi alat tipu tipu. Hp, Internet, email, radio, televisi digunakan untuk saling serang. Ujung ujungnya banyak korban.

Apalagi saat ada bencana dunia. Wabah penyakit menular. Lantas diolah untuk membuat gaduh dan kisruh. Ketika masyarakat panik, para penipu ini mengambil keuntungan. Pembohong ini mengail di air keruh. Oleh karena itu, Prabu Jayabaya bersabda dengan bijaksana. Sing bener ketenger, sing salah seleh. Becik ketitik, olo ketoro. Sapa kang mbibiti olo, wahyune bakal sirno. Inilah ajaran Prabu Jayabaya. Agar kita selalu eling lan waspodo.

Kawicaksanan Prabu Jayabaya bersamaan dengan tapa kungkum di Grojogan Sedudo. Lereng Gunung Wilis cocok untuk mengasah ketajaman spiritual. Ilmu iku kelakone kanthi laku.

(Dr. Purwadi SS M. Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA)

Check Also

Sejarah Asal Usul Gudeg Jogja

  A. Asal Usul Gudeg Gudeg sebagai makanan khas tradisional Yogyakarta dikenalkan oleh Nyai Ageng …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *