Powered by free wordpress themes

Sunday , March 7 2021
Home / Seni Budaya / Sejarah Gunung Semeru Tempat Semedi Raja Singosari

Powered by free wordpress themes

Sejarah Gunung Semeru Tempat Semedi Raja Singosari

 

A. Asal Usul Gunung Semeru.

Gunung Semeru berasal dari Negeri Hindustan. Dipindah dari negeri Hindustan ke negeri Jawa Dwipa, agar tanah Jawa berdiri tegak kokoh.

Tanah Jawa dulunya memang njomplang. Beban bagian barat Jawa terlalu berat. Sehingga terjadi botsih atau abot sisih. Sang Hyang Jagad Girinata memanggil para Dewa Kahyangan.

Hadir tokoh dewa di persidangan Kahyangan Junggring Salaka. Sang Hyang Narada, Brama, Wisnu, Indra Antaboga. Para dewa ditugasi untuk memindah gunung Mahameru yang terletak di sebelah gunung Himalaya.

Panitia pemindahan gunung Mahameru dipimpin Bathara Narada. Indra sebagai juru mudi. Brama sebagai koordinator energi. Wisnu bertugas menjaga keamanan. Antaboga mengurus bidang perlengkapan.

Sang Hyang Narada mencatat proses pemindahan Gunung Semeru dalam Kitab Tantu Panggelaran. Gunung ini berdiri di wilayah Malang. Timur pulau Jawa membuat posisi tanah menjadi datar seimbang.

Gunung Mahameru disebut pula gunung Semeru, Mandara giri, Mandra giri. Dengan ketinggian 3676 m. Berhawa sangat dingin. Terdapat kawah Junggring Salaka yang menjadi tempat upacara wilujengan.

Kawah Junggring Salaka dipercaya sebagai tempat sakral. Upacara di gunung Semeru selalu dihadiri Sang Hyang jagad Girinata atau Bathara Guru. Raja dewa datang untuk memberi anugerah kebahagiaan paripurna.

Keselamatan dan ketenangan hidup diwujudkan dengan adanya sendang Widodaren. Tirta amerta atau tirta perwita sari merupakan sumber ketentraman buat titah ing Marcapada.

Dari tlatah Ranu Pani di kaki Gunung Semeru merupakan awal lelaku. Terus menuju gubug klakah menjadi tahapan untuk menghayati makna hidup. Begitulah ilmu laku ajaran para raja dalam lintasan historis.

Raja bertugas menjaga ketertiban batin orang Jawa. Kerajaan Kanjuruhan Dinoyo menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Malang. Para raja mengutamakan keseimbangan dunia lahir dan dunia batin. Termasuk tata cara di Gunung Semeru.

Kerajaan Kanjuruhan Dinoyo Malang didirikan oleh Prabu Gajayana pada tahun 682 Saka atau 760 Masehi. Prabu Gajayana juga bergelar Kanjeng Sinuwun Prabu Gajah Kiswara, Prabu Kiswa Amurwa Bhumi. Kerajaan Kanjuruhan juga disebut Kraton Malang Kiswara, Pura Malang Kuswa, Palang Kuswara Puri, Kedhaton Palang Hiswara, Dhatulaya Palangsuka, Malang Kuswa Hiswara.

Wilayah kerajaan Kanjuruhan atau kraton Malang Kiswara diapit oleh gunung Semeru, Gunung Arjuna, Gunung Bromo, Gunung Anjasmara, Gunung Kawi, Gunung Tengger, Gunung Kelud.

Jajaran gunung gunung ini pindah dari Negeri Hindustan bersamaan dengan Prabu Ajisaka datang ke Tanah Jawa. Para Dewata di Kahyangan Junggring Salaka diutus oleh Sang Hyang Girinata untuk membuat keseimbangan Pulau Jawa. Keadaan Pulau Jawa masih njomplang. Bagian barat terlalu berat, sehingga bagian timur permukaannya meninggi. Gunung-gunung di sekeliling kerajaan Malang Kiswara tersebut membuat tanah Jawa menjadi datar.

Kepemimpinan Prabu Gajayana berlangsung dengan bijaksana. Rakyat hidup subur makmur, murah sandang pangan papan. Kegiatan bidang jasmani dan rohani berjalan secara selaras serasi dan seimbang. Begawan Agastya sebagai penasihat istana Kanjuruhan diberi asrama. Beliau diberi padepokan di bawah kaki gunung Buring. Bersama dengan cantrik-cantriknya Resi Agastya tiap malam Jumat Legi membaca kidung Bagawat Gita. Dengan harapan sagung dumadi tansah ayu hayu rahayu.

Kawasan gunung Buring dulu tumbuh kayu cendana sari. Baunya wangi harum. Semerbak ke kanan dan ke kiri. Harganya sangat mahal. Bibit kayu cendana sari ini berasal dari daerah Tumang gunung Merbabu. Tanaman kayu cendana sari di Tumang ini sengaja dipelihara oleh ayah Prabu Gajayana yang menjadi raja di Mataram Kedu Darma. Ayah Prabu Gajayana yaitu Sri Maharaja Rakai Ratu Sanjaya yang memerintah tahun 732 – 760.

Sinuwun Ratu Sanjaya sebelum surud in kasedan jati membagi kerajaan Mataram Kedu Darma menjadi dua, yaitu kerajaan Mataram Dulangmas dan kerajaan Kanjuruhan. Mataram Dulangmas diserahkan kepada Sri Maharaja Rakai Panangkaran tahun 760 – 780. Sedangkan kerajaan Kanjuruhan Dinoyo Malang diserahkan kepada Sri Maharaja Prabu Gajayana. Hubungan kakak beradik tetap kompak, harmonis dan bersatu. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda silang sengketa. Keduanya diajari oleh Sinuwun Prabu Ratu Sanjaya, agar urip prasaja, samad sinamadan, guyub rukun, sambang sambung srawung tulung tinulung.

Putri Prabu Gajayana menikah dengan putra sinuwun Prabu Panangkaran. Nama putri raja Kanjuruhan adalah Dewi Utayana atau Sekar Tejawati. Pernikahan Sekar Tejawati dengan Sri Maharaja Rakai Pananggalan yang menjadi raja tahun 780 – 800. Dari perkawinan ini lahir Sri Maharaja Rakai Warak. Trah tumerah run tumurun nak tumanak keluarga agung ini menurunkan penguasa di tanah Jawa. Prestasi gemilang yang diwariskan adalah adanya candi Borobudur, Pawon, Mendut yang bercorak agama Budha. Candi Prambanan bercorak agama Hindu. Bangunan monumental ini dikembangkan untuk membangun candi di daerah Malang.

Pembangunan candi bagi kerajaan Kanjuruhan dalam rangka memuliakan leluhur yang sudah kembali ke jaman kelanggengan. Para leluhur dianggap sudah mapan ing swarga loka. Tiap tahun diselenggarakan upacara sarada yang bertujuan untuk minta doa restu kepada nenek moyang yang sudah manjing ing tepet suci. Bangunan candi dianggap sakral. Kerajaan Kanjuruhan membangun bangunan suci di daerah Malangsuka, yaitu Candi Jago dan Candi Kidal. Pada tahun 1279 Prabu Kertanegara, raja Singosari memugar bangunan suci di kawasan Malangsuka.

Pelajar Singasari tahun 1282 dikirim ke Negeri Nepal untuk belajar ilmu Buddha Shakyamuni. Mereka tinggal di kota Kathmandu. Asramanya bernama Hesti Mandapa yang dibangun oleh leluhur raja Lakshmi Narasingha Malla.

Sembah kalbu yen lumintu dadi laku. Manggih hayu ayem tentrem kang tinemu. Candi Kidal dibangun bernuansa Hindu. Lambang tahapan kama arta darma muhsa. Sedangkan candi Jago dibangun dengan nuansa agama Budha.

Lambang tahapan kamadhatu rupadhatu arupadhatu nirwana. Konsep Hindu Budha ini oleh para penghayat di kabupaten Medang dibuat secara kreatif. Muncul istilah sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah raga. Pada masa kini masyarakat Malang mengenal syariat tarikat hakikat makrifat. Toleransi antar umat beragama berjalan sangat baik. Mereka menghayati semboyan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa.

Pujangga Majapahit merupakan kelanjutan generasi pemikir Karaton Singosari. Setiap menuangkan buah pikir, pujangga Karaton Majapahit pasti lelaku di Gunung Semeru. Murih antuk padhanging sasmita.

B. Gunung Mahameru Menjadi Lambang Kejayaan.

Tata cara tapa brata berlangsung turun tumurun. Latar belakang sejarah gunung Semeru yang agung dan anggun mengantar masa keemasan. Masyarakat Malang bangga dengan Kerajaan Singosari.
Kejayaan Kabupaten Malang terjadi pada jaman erajaan Singosari yang agung.

Pendiri kerajaan Singosari adalah Joko Pengalasan atau Cindelaras pada tahun 1222. Sejak kecil Cindelaras sudah terbiasa hidup prihatin, cegah dhahar lawan guling. Cindelaras gemar mahas ing ngasepi, manjing wana wasa. Masuk alas gung liwang liwung untuk melakukan meditasi. Bertapa di lereng Gunung Bromo untuk memperoleh ketajaman batin.

Naik ke puncak gunung Semeru dengan suasana hening senyap. Cindelaras terbiasa anelasak gegodhongan anerajang gegrumbulan. Datan noleh pringga bayaning marga. Elung eling trah kusuma rembesing madu. Mereka mendapat kasekten sejati.

Kehidupan Cindelaras yang sering berada di tengah alas, maka orang lantas memberi sebutan Joko Pengalasan. Sebetulnya Cindelaras adalah anak Raden Panji putra dari negeri Jenggala. Sebagai anak bangsawan, Cindelaras mendapat pendidikan yang cukup. Cindelaras berguru kepada Empu Sedah, Empu Panuluh, dan Empu Darmaja di Kerajaan Daha Kediri. Dari Empu Sedah mendapat ngelmu kasampurnan, joyo kawijayan guno kasantikan. Empu Panuluh memberi pelajaran tentang tata praja dan etika birokrasi. Empu Darmaja memberi pengetahuan tentang ekologi, antropologi, sosiologi, teologi, dan psikologi.

Pertapan Mamenang Daha mempunyai murid dari kalangan Bang lor, Bang Wetan dan Bang Kulon. Padepokan ini didirikan oleh Prabu Jayabaya. Dikelola oleh Empu Sedah, Empu Panuluh dan Empu Darmaja. Bertempat di kaki Gunung Klothok, Pesanggrahan Mamenang membina generasi muda.

Jalma limpat seprapat tamat. Cindelaras atau Joko Pengalasan tampil sebagai pribadi paripurna. Perilaku pantas jadi suri teladan. Ulat patrap lan pangucap serba menyenangkan orang lain. Rajin bekerja, tekun belajar, ramah tamah, murah hati dan suka menolong. Dalam pergaulan Cindelaras suka membaur pada kalangan bawah. Sehari-hari berteman dengan rakyat jelata. Nama panggilan akrabnya yaitu Ken Arok.

Bertapa di puncak gunung Mahameru, Ken arok mendapat ndaru kekuasaan. Wahyu keprabon cumlorot manjing dalam diri pribadi.

Nama Ken Arok begitu populer di kerajaan Jenggala dan Daha. Tiba saatnya Joko Pengalasan atau Cindelaras menerima estafet kepemimpinan Jenggala. Pada tanggal 4 Juli 1222 pemuda Ken Arok resmi menjadi raja Jenggala. Pada hari itu juga nama Jenggala berganti menjadi kerajaan Singosari. Proses pergantian ini memang atas usulan Dewan Kraton. Anggotanya terdiri dari perwakilan anak raja, cucu raja, sentana, pejabat daerah, pemuka agama, kelompok tukang, petani, nelayan dan pedagang. Penamaan Singosari memang hasil musyawarah Dewan Kraton Jenggala. Pergantian nama Jenggala menjadi kerajaan Singosari berlangsung mulus, tenang adhem ayem.

Sahabat karib Cindelaras seperti Kebo Ijo, Kebo Anabrang, Kebo Marcuwet diberi tugas di istana Singosari. Mereka dipilih untuk membantu kelancaran birokrasi Singosari. Pendidikan, pengalaman dan kemampuan mereka cukup memadai.

Garwa itu sigaraning jiwa. Demi keseimbangan Ken Arok atau Joko Pengalasan segera mencari jodoh. Atas kesepakatan para sesepuh kerajaan Singosari, Cindelaras atau Ken Arok itu dijodohkan dengan Ken Dedes atau Sedah Mirah. Dalam perjodohan ini tetap berpedoman pada unsur bibit bebet bobot. Ken Dedes adalah putra Panji Asmarabangun yang menikah dengan Sekartaji Galuh Candrakirana. Penguasa Daha ini populer di kalangan rakyat jelata. Pintar manjing ajur ajer, mancala putra mancala putri. Pernikahan Ken Arok atau Cindelaras dengan Ken Dedes atau Sedah Mirah ini berlangsung megah meriah. Pesta besar-besaran di negeri Daha Jenggala. Para bangsawan istana ini tetap rajin bertapa di puncak gunung Semeru.

Sebetulnya nama asli Ken Dedes adalah Rara Sedah Mirah. Cocok sekali menjadi pendamping raja Singosari. Sejak menjadi raja Joko Pengalasan atau Cindelaras atau Ken Arok ini bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi. Sedang Rara Sedah Mirah atau Ken Dedes bergelar Sri Ratu Pradnya Paramitha. Selama pemerintahan trah Daha Jenggala ini, Kerajaan Singosari bertambah kondang kaloka. Singasari menjadi negeri kang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Pada tahun 1223 Khalifah An Nasir dari Bagdad Irak berkunjung ke Singosari. Beliau keturunan Khalifah Harun Al Rasyid Bani Abbasiyah. Ken Arok dan Ken Dedes menerima kunjungan kenegaraan ini dengan gembira sekali. Jamuan makan malam dengan suguhan rawon dan wedang angsle.

Pembangunan kerajaan Singosari berkembang pesat pada jaman Kanjeng Sinuwun Prabu Kertanegara yang memerintah tahun 1268 – 1292. Tempat-tempat wisata di kerajaan Singosari dikembangkan. Misalnya pemandian Wendut di desa Mangliawan Pakis Malang. Kanan kiri pemandian terdapat aneka ragam satwa. Prabu Kertanegara juga membangun pemandian Songgoriti di lereng Gunung Arjuna dan Gunung Kawi. Demi kelestarian lingkungan juga dibangun kebun raya purwodadi. Budidaya semangka dilakukan di daerah Sengkaling.

Pemukiman kerajaan Singosari ditata rapi. Kantor, alun-alun, pasar, patirtan dibangun oleh Sinuwun Kertanegara dengan melibatkan arsitektur dari Tiongkok, Mesir, Bagdad, India, Malaka dan Srilangka. Tata kota kerajaan Singosari membanggakan warga. Mereka rumangsa melu handarbeni, rumangsa wajib hangrungkebi dan mulat sarira hangrasa wani. Kraton Singosari menjalin diplomasi dengan manca negara. Boleh dikatakan kerajaan Singosari adalah negeri kang gedhe obore padhang jagade, dhuwur kukuse adoh kuncarane. Kang cedhak manglung kang tebih mentiyung.

Masyarakat Malang boleh senyum bahagia. Leluhur mereka arum kuncara ngejayeng jagad raya. Pada jaman Majapahit Prabu Hayamwuruk yang memerintah tahun 1350 – 1386 kerap berkunjung ke wilayah Malang. Beliau tapa brata di Gunung Semeru. Turut serta bermeditasi Empu Prapanca dan Empu Tantular. Turut serta bermeditasi Empu Prapanca dan Empu Tantular. Kunjungan kenegaraan itu sekaligus sosialisasi kitab Negarakertagama dan kitab Sutasoma. Karya sastra piwulang ini berguna untuk membina pendidikan budi pekerti.

Agama ageming aji. Masyarakat Malang melaksanakan ajaran agama berpijak pada nilai budaya. Arab digarap Jawa digawa. Hasilnya adalah keselarasan sosial. Metode beragama ini sesuai dengan ajaran Wali Sanga.

Kanjeng Sunan Ampel, salah seorang Wali Sanga diberi tugas untuk membina wilayah Malang. Kasultanan Demak Bintara mengutus Sunan Ampel pada tahun 1523 untuk melakukan syaiar di kawasan Dampit, Batu, Mandaraka, Ampelgading, Bantus, Dau, Donomulyo, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromeng, Lawang, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Pujon, Sumbermanjing, Tajinan, Sumber-pucung, Tirtoyudo, Tumpang, Turen, Wagis, Wajak, Wonosari.

Peran kabupaten Malang selanjutnya tetap penting dan menggembirakan. Pada masa kerajaan Pajang, Mataram dan Surakarta Hadiningrat. Bahkan pada era sekarang warga Malang yang menjadi abdi dalem kraton. Hubungan harmonis ini patut mendapat penghargaan dari generasi muda. Sejarah sebaiknya berkelanjutan. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.

Kabupaten Malang pada tahun 1819 mendapat status daerah otonom dari kerajaan Surakarta Hadiningrat. Rajanya saat itu dijabat oleh Kanjeng Sinuwun Paku Buwono IV. Beliau membina masyarakat Malang dengan serat Wulangreh.

Surat keputusan kabupaten Malang sebagai daerah otonom diserahkan oleh pejabat Patih KRA Sosrodiningrat II pada tanggal 28 Nopember 1819. SK diterima oleh Bupati Malang Raden Adipati Aryo Notodiningrat I.

Para pemimpin Kadipaten Malang sadar sejarah. Upacara sesaji dilakukan demi mendapatkan ketenangan lahir batin. Wibawa gunung Mahameru dijaga dengan upacara kenegaraan.

C. Wibawa Gunung Mahameru.

Kerajaan Singosari di bawah kepemimpinan Sinuwun Prabu Kertanegara tampil maju makmur berwibawa. Tiap tahun raja Singosari mengirim utusan tim Kraton untuk menyenggarakan wilujengan. Bertempat di kawah Junggring Salaka gunung Semeru.

Prabu Kertanegara memimpin langsung jalannya upacara adat. Sesaji dan uba rampe lengkap jangkep genep genah. Paugeran adat kerajaan Singosari diwariskan secara turun tumurun.

Abdi dalem purwo kinanthi Karaton Singosari siap sedia. Bunga, dupa, ratus dibawa untuk kelengkapan prosesi ritual. Para Bupati Malang hadir untuk membangun peradaban dunia. Yakni keselarasan jagad gedhe dan jagad cilik.

1. Adipati Notodiningrat I 1819 – 1839
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IV, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

2. Adipati Notodiningrat II 1839 – 1884
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono VII, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

3. Adipati Notodiningrat III 1884 – 1898
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono IX, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

4. Adipati Suryodiningrat I 1898 – 1934
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

5. Adipati Sam Hadinagoro 1934 – 1945
Dilantik pada jaman pemerintahan Sinuwun Paku Buwono X, raja Kraton Surakarta Hadiningrat.

6. R Soedono 1945 – 1950
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

7. Ronggo Moestedjo 1947 – 1950
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

8. Said Hidayat 1950 – 1951
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
9. Mas Ngabehi Soentoro 1950 – 1958
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

10. R Soendoro Harjoamijoyo 1958 – 1959
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

11. Djapan Notobudoyo 1959 – 1964
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

12. Moch Sunan, SH 1964 – 1969
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.
13. Kol R. Suwignyo 1969 – 1979
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

14. Kol Eddy Slamet 1980 – 1985
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

15. Kol Abdul Hamid Mahmud 1985 – 1995
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

16. Kol Moh Said 1995 – 2000
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

17. Ir Moh Ibnu Rubianto 2000 – 2001, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.
18. Sujud Pribadi, S.Sos 2001 – 2010
Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Megawati.

19. Rendra Kresna 2010 – 2018, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

20. Drs. M. Sanusi, MM 2018 – sekarang, Dilantik pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Anjajah desa milang kori.
Kala mangsane pariwisata.
Endahe bumi nuswantara.
Ingkang adi luhung alas lan gunung gunung.

Kabupaten Malang sepanjang masa memang menawan, panjang sejarahnya, punjung luhur kewibawaannya. Maju kota desanya, bahagia warganya. Puji pinuji mugi sami pinanggih rahayu lestari. Keindahan alam Malang merupakan anugerah Tuhan. Penduduk kabupaten Malang ramah tamah, jujur mujur, andhap asor dan berbudi utama, demi memayu hayuning bawana.

Gunung Semeru yang berada di wilayah Malang dianggap sakral oleh warga Bali. Gunung Agung di Bali adalah anak gunung Semeru. Tiap tahun warga Bali melakukan sesaji sendang Widodaren

Bagi masyarakat Bali keturunan Kerajaan Majapahit, sendang Widodaren tempat mengalirnya tirta perwira. Air penghidupan ini dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan. Sebagian orang menyebut tirta perwita sari.

(Dr. Purwadi, M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA)

Check Also

Sejarah Asal Usul Gudeg Jogja

  A. Asal Usul Gudeg Gudeg sebagai makanan khas tradisional Yogyakarta dikenalkan oleh Nyai Ageng …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *