Powered by free wordpress themes

Sunday , March 7 2021
Home / Serba-serbi / Pengambil Kebijakan, Ibarat Memegang Pisau Bermata Dua

Powered by free wordpress themes

Wisata Tani Betet, Nganjuk, terjadi penurunan pengunjung drastis selama PPKM.

Pengambil Kebijakan, Ibarat Memegang Pisau Bermata Dua

Nganjuk, HarianForum.com- Pengambilan keputusan dengan penutupan terhadap ruang aktivitas publik yang memiliki keterkaitan kegiatan ekonomi, dilakukan sebagai langkah pengendalian penyebaran pandemi corona virus, pada saat ini ibarat mulai menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi penutupan terhadap tempat tempat yang memiliki potensi berkerumun, merupakan salah satu cara yang paling tepat untuk mengendalikan maupun pencegahan penyebaran virus corona yang semakin hari semakin terlihat adanya peningkatan.

Namun di sisi lain, menghentikan kegiatan masyarakat pada tempat tempat yang memiliki potensi perekonomian, lambat laun juga akan menimbulkan persoalan baru. Masyarakat yang menggantungkan daya ekonominya pada kegiatan tersebut, akan merasakan dampak dari adanya penghentian atau penutupan. Tidak adanya aktivitas penunjang ekonomi, hilangnya sumber pendapatan, sedangkan kebutuhan mengisi perut tidak bisa ditunda, berpotensi dapat mempengaruhi mental, dan bisa memicu untuk mengambil jalan pintas dalam memenuhi kebutuhan. Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak sosial yang berpotensi mengganggu stabilitas, terkecuali terdapat solusi dari pengambil kebijakan.

Syaikhu Ahmad pengelola WTB.

Pada sektor wisata, tidak semua daerah memutuskan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat dengan melakukan penutupan tempat tempat yang memiliki potensi perekonomian masyarakat. Daerah yang masih memikirkan dampak terganggunya stabilitas ekonomi masyarakat, memiliki kebijakan selama penerapan pembatasan, tempat tempat wisata masih diperbolehkan melakukan aktivitasnya, namun tetap tidak meninggalkan proteksi terhadap pencegahan maupun pengendalian penularan virus corona. Meningkatkan pelaksanaan protokol kesehatan yang lebih disiplin dan ketat, menjadi syarat mutlak yang harus dijalankan, dan tidak hanya ditujukan bagi pengunjung wisata namun juga untuk para pelaku usaha pariwisata.

Destinasi Wisata Tani di desa Betet, kecamatan Ngronggot, kabupaten Nganjuk, selama pelaksanaan penerapan pembatasan kegiatan masyarakat tetap dibuka. Syaikhu Ahmad salah satu pengelola destinasi wisata ini, mengakui bahwa selama penerapan pelaksanaan kegiatan masyarakat, tempat wisata yang dikelolanya tetap beraktivitas.

Yustika dan Desi Atika pengunjung WTB.

“Insya Allah masih tetap buka, namun yang pasti menggunakan persyaratan protokol kesehatan yang super ketat. Untuk masuk pengunjung digilir, tidak boleh ada yang berjubel atau terlalu banyak, tidak seperti sebelum ada penerapan pembatasan kegiatan. Dan setiap wisatawan yang masuk terus diingatkan untuk tetap menjaga dan melaksanakan protokol kesehatan. Namun saya berfikiran bahwa masyarakat sekarang lebih memiliki proteksi diri dari bahaya penularan covid. Pemikiran saya dengan melihat penurunan jumlah pengunjung yang datang ke tempat ini, terjadi penurunan yang luar biasa hingga sampai 50 persen lebih,”ย jelasnya kepada HarianForum.com, ditemui di lokasi wisata tani desa Betet, Minggu (24/01).

“Pada hari biasa pengunjung yang datang bisa 2.000, sekarang kurang lebih hanya 500.Sedangkan pada hari Minggu atau libur dulu biasanya 3.000 lebih, tetapi sekarang tinggal sekitar 1.000 saja, itupun dihitung dari pagi sampai sore. Untuk pemantauan setiap hari tim Satgas covid kecamatan datang kesini, termasuk Forpimcam (Forum Pimpinan Kecamatan), yang selalu mengingatkan pengunjung, terutama bagi para pedagang disini agar selalu menghimbau, agar pengunjung selalu mentaati protokol kesehatan. Dan yang terpenting semuanya terlibat secara aktif untuk mencegah penyebaran virus, namun pekonomian juga harus tetap berjalan,” imbuhnya.

Pusat jajan di kawasan WTB.

Desi Atika bersama temannya Yustika pengunjung wisata tani Betet, menuturkan bahwa sesekali perlu meluangkan waktu untuk melepas kepenatan, karena rutinitas belajar di dalam rumah, ditambah dengan tugas tugas kuliah yang harus diselesaikan. Dengan adanya rutinitas tersebut membuat mahasiswi di salah satu perguruan tinggi negeri ini, mengaku dirinya terkadang merasa jenuh. Untuk menepis kebosanan, mahasiswa yang berkuliah di kampus III di Kediri ini, memilih tempat yang dirasa nyaman dan bisa membuatnya refresh.

“Saya sepakat dengan yang disampaikan teman saya, refreshing memang suatu saat dibutuhkan karena setiap hari kita merasa jenuh dengan tugas tugas kuliah, jadi tempat seperti ini tetap dibutuhkan, dan yang pasti harus tetap ikuti aturan protokol kesehatan,” tuturnya.(Ans)

Check Also

Praktik Dukun Tidak Sama, Jangan Digebyah Uyah

Blitar, HarianForum.com- Kabar dideklarasikan Persatuan Dukun Nusantara di kabupaten Banyuwangi, saat ini menjadi salah satu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *