Powered by free wordpress themes

Wednesday , October 28 2020
Home / Peristiwa / Pantai Serit Melewati Gelombang Pandemi, Menghadapi Berita Gelombang Tsunami

Powered by free wordpress themes

Pantai Serit Melewati Gelombang Pandemi, Menghadapi Berita Gelombang Tsunami

Blitar, HarianForum.com- Merujuk dari salah satu ensiklopedia, bahwa dengan pusat di Samudera Hindia, gempa tektonik terjadi pada tanggal 2 Juni 1994 dan diperkirakan terjadi sekitar pukul 18.17 wib. Setelah 7 jam terjadinya gempa bumi, gelombang tsunami menyusul dan menghantam pesisir pantai selatan Banyuwangi pada dini hari, tanggal 3 Juni 1994, disaat warga di pemukimam pesisir pantai terlelap tidur.

Gempa bumi tektonik yang memicu terjadinya gelombang tsunami di laut Samudera Hindia, tidak saja membuat kerusakan secara total pemukiman penduduk yang berada di pesisir pantai Plengkung, pantai Rajegwesi dan pantai Pancer. Gelombang tsunami tidak hanya meratakan 3 pemukiman pesisir pantai selatan Banyuwangi dengan tanah, namun 200 jiwa lebih telah meninggal tersapu gelombang.

Masih belum hilang dari ingatan, pada pukul 08.58 wib, tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa berskala 9,1– 9,3 dalam skala kekuatan Momen dan Violent dalam skala intensitas Mercalli, dampak adanya megathrust bawah laut, pada saat lempeng Hindia didorong ke bawah oleh lempeng Burma sehingga memicu gelombang tsunami raksasa dengan ketinggian 30 meter di sepanjang pesisir daratan yang berbatasan dengan Samudra Hindia dan telah menewaskan hampir 300 ribu jiwa di 14 negara. Indonesia negara yang menderita paling parah selain negara India, Thailand dan Sri Langka.

Saat ini sebagian warga digelisahkan bahkan tidak sedikit merasa panik dengan beredarnya informasi adanya potensi gelombang tsunami setinggi 20 meter yang akan menerjang pesisir selatan pulau Jawa dari kajian yang dilakukan oleh para peneliti di salah satu perguruan tinggi. Informasi hasil kajian tersebut, membuat kondisi di beberapa destinasi wisata pantai selatan mengalami stagnasi dengan penurunan pengunjung atau wisatawan secara drastis.

Edi Supriono, salah satu penggiat ekonomi yang membuka usaha dagang di pantai Serit, mengaku dalam 2 minggu, kondisi pantai benar benar sepi dari pengunjung. Menurutnya perubahan pengunjung ke pantai Serit setelah bergulirnya berita adanya tsunami 20 meter yang akan menerjang di sepanjang pantai selatan pulau Jawa.

“Sejak adanya pandemi corona sekitar 7 bulan pantai disini tidak ada kegiatan wisata karena tidak ada pengunjung yang datang. Sekarang sudah 2 minggu pantai sepi lagi, ya setelah ada berita akan terjadinya tsunami setinggi 20 meter. Mendapat berita seperti itu mungkin masyarakat yang mau berwisata di pantai takut adanya gelombang tsunami. Kalau orang orang yang berdagang di sini biasa biasa saja, tetapi pengunjung mungkin lain berfikirnya,” ujar salah satu warga desa Serang, kecamatan Panggungrejo, kabupaten Blitar yang membuka jasa penjualan makanan dan minuman serta kebutuhan wisatawan di pantai Serit kepada HarianForum.com (11/10).

Melansir tulisan dari salah satu media online nasional, bahwa sebuah badan yang membidangi meteorologi, klimatologi, dan geofisika menyampaikan bahwa kajian tentang adanya gempa kuat di laut selatan pulau Jawa, tidak untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat. Bahkan hasil kajian tersebut lebih bijaknya direspons sebagai upaya mitigasi atau usaha meminimalisir resiko bencana, selain dengan menata serta memasang rambu untuk evakuasi, menyiapkan tempat evakuasi insidental atau sementara, mengatur tata ruang pantai berbasis meminimalisir resiko tsunami, serta meningkatkan performa sistem peringatan dini tsunami. Selain itu, kajian tersebut juga bisa untuk mendorong masyarakat lebih meningkatkan kegiatan sosialisasi mitigasi maupun cara evakuasi.

“Pernah ada rombongan pengunjung yang datang ke pantai, awalnya biasa saja. Namun saat ombak dirasakan semakin besar dan air laut menjadi keruh, akhirnya rombongan pengunjung segera meninggalkan pantai,” terang Edi.

Masyarakat sebaiknya tidak perlu terlalu panik menyikapi sebuah kajian adanya potensi gempa bumi yang menimbulkan gelombang tsunami di laut selatan pulau Jawa. Kajian dibuat para ahli bukan prediksi, namun melainkan paparan tentang potensi gempa maupun tsunami. Dan mungkin perlu untuk diketahui hingga sampai saat ini, belum ada tehnologi yang bisa menebak dengan tepat dan akurat, kapan dan dimana akan terjadinya gempa bumi.(Ans)

Check Also

Terlibat Perselingkuhan, Warga Ds. Sumberagung Tuntut Dua Perangat Desa Dilengserkan

Jombang, HarianForum.com- Warga Desa Sumberagung, Kecamatan megaluh Kabupaten Jombang menggelar aksi unjuk rasa menuntut dua …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *