Kolom Opini (Oleh Siti Nur Kholifah) – Pemilihan Bupati Nganjuk tahun 2018 lalu masih membekas di ingatan kita. Ajang pesta demokrasi tersebut diikuti oleh tiga pasangan calon. Masing-masing adalah pasangan Siti Nurhayati-Bimantoro Wiyono, Pasangan Novi Rachman Hidayat-Marhen Djumadi dan pasangan Desy Natalia Widya-Ainul Yakin.
Proses demokrasi tersebut dimenangkan pasangan Novi Rahman Hudayat-Marhen Djumadi, yg diusung oleh koalisi PDIP, PKB dan Hanura.
Sesuai peraturan, masing -masing pasangan calon yang mengikuti pemilihan kepala daerah harus menyerahkan visi dan misi yang nantinya akan menjadi program kerja selama lima tahun jika terpilih.
Hal yang menarik tentu adalah visi dan misi pasangan calon terpilih, Novi Rahman Hudayat-Marhaen Djumadi. Visi dan misi pasangan ini dinamakan Nyawiji, Menata Kota Membangun Desa, yang artinya seluruh elemen masyarakat bersatu bergotong royong membangun bersama-sama. Dengan program Nyawiji, sudah tidak ada sekat antara seorang pemimpin dengan masyarakat untuk mewujudkan kemajuan daerah yang lebih bermartabat.
Di dalam visi dan Nyawiji itu ada beberapa program unggulan. Diantaranya, pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan dan saluran berupa tambahan anggaran 60 miliar untuk pembangunan jalan desa. Kemudian pembentukan unit reaksi cepat (URC), peningkatan kualitas mutu jalan dan pembangunan waduk secara bergotong royong.
Di bidang birokrasi pemerintahan, akan menciptakan birokrasi yang bersih dan berwibawa tanpa korupsi. Hal ini akan diwujudkan dengan mutasi pejabat tanpa upeti dan uang. Akan membentuk pusat pengaduan masyarakat.
Dalam upaya mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran akan memberikan edukasi kewirausahaan, membatasi berdirinya pasar modern, mendirikan gardu taskin, memberikan kredit modal tanpa bunga dan tanpa jaminan. Program ini ditunjang pemberian kartu Nganjuk mandiri berupa bantuan berupa uang sebesar Rp 1 juta hingga Rp 10 juta.
Di bidang pendidikan, untuk mewujudkan pemerataan pendidikan di seluruh lapisan masyarakat, akan dihapus segala bentuk iuran di setiap sekolah di bawah naungan Pemkab. Di bidang pariwisata, akan dibangun tempat tempat wisata, terutama wisata desa.
Kalau dicermati, program Nyawiji yang diusung pasangan Novi-Marhaen tersebut merupakan antitesa dari prakti pemerintahan pasangan Bupati dan wakil bupati sebelumnya, yaitu Bupati Taufiqurahan dan wakil bupati Abdul Wachid Badrus. Karena sudah menjadi perbincangan umum, jika masa pemerintahan Bupati Taufiqurahman ini banyak praktik korupsi. Puncaknya, Bupati Taufiqurahman ditangkap KPK.
Melihat kondisi pemerintahan seperti itu, masyarakat Nganjuk menaruh harapan baru kepada pasangan Bupati dan Wakil Bupati Novi-Marhaen Djumadi. Apalagi masyarakat melihat Novi Rahman Hidayat dari keluarga kaya raya. Sehingga sudah tidak butuh uang.
Tetapi apa yang terjadi. Program yang muluk-muluk dan bagus tersebut seakan hanya enak dibaca tapi sulit dilaksanakan. Praktik pemerintahan tak ubahnya seperti era Bupati sebelumnya. Puncaknya, Bupati Novi Rahman Hidayat mengalami nasib yang sama ditangkap KPK. Bahkan, bersama Novi ikut ditangkap 5 orang camat dan seorang ajudannya.
Dua peristiwa kelam tersebut jelas membuat Nganjuk sangat terpuruk. Ibarat seorang petinju, mengalami dua kekalahan dengan KO.
PLT Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, yang sebelumnya menjabat Wakil Bupati, menyadari betul keterpurukan tersebut. Karena itulah, ia membuat program baru di sisa pemerintahanya, yang ia namakan Bangkit. Mungkin bangkit dari keterpurukan tersebut. Ibarat orang bangkit dari tidurnya.
Tapi yang jelas, raungan Bangkit sudah menggema di seluruh wilayah Kabupaten Nganjuk. Kini tinggal aksi nyata dalam wujud praktik pemerintahan negeri Anjuk Ladang ini. Jangan sampai hanya enak di dengar sulit dilaksanakan.
Maka dari itu, Plt Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengajak masyarakat bangkit dan melesat bersama untuk kesejahteraan Kab. Nganjuk.Butuh kerja keras dan kerja sama semua pihak untuk mewujudkannya.












