Blitar, HarianForum.com – Belum ada kepastian perpanjangan kontrak antara pemerintah desa Serang dalam hal ini BUMDes dengan Perhutani tentang pengelolaan tempat wisata yang berada di wilayah desa Serang, kecamatan Panggungrejo, kabupaten Blitar.Mandeknya perjanjian kerjasama belum bisa menebak, kemungkinan buntut adanya aksi sebagian warga desa yang menuntut transparasi manajemen BUMDes atau mungkin karena terkendala perubahan regulasi atau tehnis lainnya.
Yang pasti sangat eman – eman bila pantai Serang Blitar pada lebaran tahun ini tidak memperoleh pendapatan dari tiket masuk dari pengunjung yang memanfaatkan waktu libur untuk berwisata seperti pada tahun – tahun sebelumnya, meski di sisi yang lain masyarakat umum bisa menikmati destinasi wisata secara gratis.
Berbincang dengan kepala desa Serang Handoko Prawiro yang sengaja diundang di kediaman Choirul Anam, mantan kepala desa Gogodeso pada Senin malam (10/3), bukan menanyakan atau menyinggung kondisi yang terjadi saat ini, namun bernostalgia mengungkit kembali 10 tahun yang lalu perjalanan pengembangan wisata pantai Serang.
Dalam perbincangan, Choirul Anam mengetahui persis sepak terjang Handoko Prawiro saat mengawali menjabat kepala desa Serang.Ide – ide yang acap kali dilontarkan Handoko dalam diskusi kecil tentang terobosan – terobosan menjadikan pesisir pantai wilayah desa Serang menarik perhatian masyarakat secara luas.
Choirul masih mengingat pada pertengahan tahun 2015, pemerintah desa Serang menyelenggarakan “Culture Festival di Pantai Serang ” dengan rangkaian festival patung pasir, layangan gapangan dan pementasan kesenian lokal pada pertengahn tahun 2015 yang akhirnya dijadikan agenda tahunan.
” dulu saya dan teman – teman penggiat wisata dan pertanian sering berdiskusi dengan mas Handoko tentang gagasannya, bagaimana potensi alam pantai dikelola bisa menjadi sumber pendapatan untuk
meningkatkan perekonomian masyarakatnya.Waktu itu pantai Serang masih belum dikenal publik secara luas, kalah dengan pantai Tambakrejo.Namun mas Handoko sangat optimis pantai Serang bisa dikenal seperti pantai Tambakrejo.” tutur Choirul Anam.
” saya mengikuti acara pelepasan tukik atau anak penyu ke laut, ikut di beberapa acara lainnya, dan dari kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan, mulai terpublikasi oleh media massa maupun media sosial, hingga pantai Serang mulai diminati wisatawan. ” tambahnya.

Choirul Anam menandaskan dalam mengawali perjuangan, Handoko Prawiro dari awal mempunyai keinginan kuat mengembangkan desa wisata dengan memanfaatkan sumber daya alam yang dimiliki untuk kegiatan kepariwisataan serta mengelola sumber daya manusia untuk mengggeliatkan desa wisata, dimulai menggelar event – event dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat publikasi dan promosi telah membuahkan hasil, yang mana bukan lagi ribuan, akan tetapi puluhan ribu wisatawan yang mengunjungi pantai Serang dalam pertahunnya.
Seiring dengan peningkatan kunjungan wisata, semangat warga mulai tumbuh menjalankan aktivitas perekonomian tidak hanya usaha kuliner berbasis kerarifan lokal, akan tetapi dengan perubahan yang cukup signifikan di kawasan wisata laut mulai mematik gagasan mengembangkan jasa – jasa usaha yang lain, tidak hanya dari warga sekitar, akan tetapi juga dari luar desa bahkan dari luar daerah.Tidak hanya itu, kemajuan pengelolaan kawasan wisata pantai Serang juga diapresiasi oleh pemerintah maupun perguruan tinggi, yang mana pada tahun 2015 telah memperoleh penghargaan perencanaan desa wisata tingkat kabupaten Blitar dan sebagai desa Inovatif tingkat provinsi Jawa Timur.
Selain itu atas keberhasilan kepala desa menggerakkan warganya dalam mengamalkan nilai – nilai Pancasila serta sukses dalam pengelolaan desa wisata, pada tahun 2020 desa Serang menerima penghargaan sebagai Kampung Pembakti Pancasila kategori Kampung Penggerak Pancasila dari BPIP RI, serta sebagai salah satu dari 50 besar desa wisata terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, hingga menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Sandiaga Uno, mengunjungi
kawasan wisata pantai Serang.
” kalau mas Handoko memperoleh berbagai penghargaan ya memang sudah selayaknya.Bagaimana tidak, mulai 2015 beliau itu merintis kemudian berhasil mengembangkan desa wisata dan sampai saat ini berapa warga masyarakat yang memperoleh manfaat dari hasil perjuangannya, atau mungkin juga berapa fasilitas umum yang bisa dinikmati masyarakat karena upayanya.Maka saya pribadi sangat eman kalau kawasan wisata pantai Serang sekarang ini ” status quo ” tanpa pengelolaan, selesaikan dengan bermusyawarah yang baik ” tandas Choirul Anam.(Ans).












