Serba-serbi

Nasehat Bijak Dan Kritis Tangkis Hoaks di Masa Pandemi (2)

×

Nasehat Bijak Dan Kritis Tangkis Hoaks di Masa Pandemi (2)

Sebarkan artikel ini

 

Blitar, HarianForum.com- Kedua, karakter cendikia yaitu karakter yang mengedepankan lapang dada dan berbudi tinggi. Ketiga, karakter budiman yaitu bertingkah laku terpuji dan sabar dalam menghadapi kehidupan. Keempat, karakter arif yaitu menggambarkan seseorang yang menjadi tempat rujukan bertanya bagi masyarakat. Keempat poin ini mengandung nilai-nilai karakter yang berkorelasi positif dengan tantangan kehidupan di masa pandemi saat ini.

Telaah Peran dan Muatan Petatah Petitih Minangkabau dalam Upaya Menangkis Berita Hoak di Masa Pandemi. Di kutip dari website resmi Direktorat Jendral Aplikasi Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika (2020), ada tujuh upaya mengatasi berita hoaks di masa pandemi diantaranya:

Hati-hati dengan berita provokatif dan sensasional (membuat emosi, ingin disebar, menimbulkan kepanikan, kita harus curigai). Cermati sumber berita (situsnya terpercaya atau tidak). Periksa fakta terlebih dahulu (cek fakta pada akun resmi) Cek keaslian foto/vidio (bisa menggunakan google images) Ikuti forum-forum anti hoaks serta menggunakan aplikasi terkait layanan informasi resmi dari pemerintah

Sabar dan terbuka.( Sabar jangan mudah sharing langsung berita yang kita temukan. Pastikan dulu berita itu fakta, bermanfaat, penting dan mendesak untuk diketahui orang lain. Kita juga harus terbuka terhadap berbagi berita, dengan menanyakan kepada ahlinya, agar berita yang kita terima tidak membohongi kita dengan mudah)

Kurangi konsumsi informasi yang masih kabur dan meragukan serta beralih pada hal-hal yang produktif.
Berkaca dari rekomendasi yang diberikan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika, ternyata konsep serupa sudah jauh terlebih dahulu tertanam dalam petatah petitih Minangkabau. Nilai-nilai kebijaksanaan bertindak, kecerdasan dan nalar kritis sebelum menyetujui suatu informasi, sudah diwariskan dengan bahasa yang berkearifan lokal dalam wujud petatah petitih Minangkabau.

Berbagai nasehat dan aturan hidup yang ideal, tersarikan didalam 500.000 petatah petitih, mamang, bidal dan pantun yang tersimpan kokoh dalam Tambo adat Minagkabau (Hakimy, 1984). Diantara sekian banyak kearifan lokal sastra lisan dalam bentuk petatah petitih, setidaknya ada beberapa yang bisa dijadikan rujukan dalam upaya mengalahkan berita hoaks di masa pandemi, yaitu (Hakimy, 1984):

“Maniah nan jan lakeh di raguak, pahik nan jan lakeh di luahkan.” Mengandung arti bahwa ketika mendapatkan suatu pelajaran atau pengetahuan baru, harus dipikirkan matang-matang dan cek dahulu kebenarannya. Tentu saja petatah petitih ini sangat sesuai dengan konsep nalar kritis yang harus diperkuat ketika menemukan berita hoaks.“ Bak balam talampau jinak, gilo ma-angguak-anguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili.” Nasehat ini dalam petatah petitih mengandung sindiran terhadap orang yang cepat percaya tanpa mencari tahu terlebih dahulu. Sindiran ini menerangkan larangan dan sikap yang harus dihindari oleh masyarakat.

“Pandai karano batanyo, tahu karano baguru.” Ungkapan ini mengandung makna bahwa pengetahuan didapatkan karena belajar dan banyak bertanya kepada orang yang berilmu. Nilai-nilai pentingnya ilmu dan verifikasi kepada ahlinya mengenai suatu hal baru yang ditemukan, tergambar jelas didalam petatah petitih ini.

“Nanang saribu aka, haniang ulu bicaro, pikia palito hati, dek saba bana mandatang.” Petatah petitih ini mengandung arti bahwa kita harus tenang dalam berfikir, menimbulkan aspirasi baik dan kesabaran dalam mendatangkan kebenaran. Nasehat ini mengajarkan kita kebijaksanaan dalam bertindak. Tidak boleh tergesa-gesa dan senantiasa bersabar mencari kebenaran serta jangan langsung bebagi apa yang baru kita dapatkan.

“Anjalai tumbuah dimunggu, sugi sugi dirumpun padi. Supayo pandai rajin baguru, supayo tinggi naikan budi.” Petatah petitih ini memiliki arti bahwa pengetahuan hanya didapat dengan berguru, kemulian hanya didapat dengan budi yang tinggi. Dua nilai utama yang diterangkan dalam nasehat ini yaitu pentingnya pendidikan dan berahlak sebelum bertindak. Sehingga setiap yang memahaminya, akan dibatasi untuk tidak malakukan perbuatan yang amoral seperti menyebarkan dan memproduksi hoaks.

“Adat biaso kito pakai, limbago nan samo dituang, nan elok samo dipakai nan buruak samo dibuang.” Nasehat untuk memakai yang baik dan meninggalkan yang buruk. Setelah kita kritis, bijak dan menemukan fakta terhadap suatu hal, maka ada dua tindakan yang bisa kita lakukan. Pertama, kalau itu baik, faktual, bermanfaat, dan penting, maka gunakan serta sebarkaban. Kedua, kalau ternyata itu buruk, hoaks, dan tidak bermanfaat, maka stop sebar, laporkan, tinggalkan, serta lakukan hal yang bermanfaat.

Pada akhirnya, berbagai nasehat dan nilai-nilai luhur yang berkearifan lokal, sudah seharusnya menyentuh kehidupan masyarakat. Nasehat bisa membuka mata orang pada hakikat sesuatu, nenuntun menuju situasi luhur dan potensial membentuk akhlak mulia (Zamroni, 2017). Menurut Ulwan (1981) dalam Zamroni (2017) menyatakan bahwa nasehat yang ikhlas akan melekat dan berpengaruh, jika memasuki jiwa yang hening, keterbukaan hati, kebijaksanaan akal, sehingga akan membekas lebih dalam. Maka dari itu, nasehat dalam wujud petatah petitih Minangkabau yang dilestarikan dan diadopsi secara kolektif dalam kehidupan, akan sangat berdampak pada pembentukan karakter berkualitas di masyarakat.
Kesimpulan

Petatah petitih Minangkabau merupakan salah satu alternatif yang dapat dipakai dalam menekan beredarnya berita hoaks di masyarakat. Tampil dalam wujud kearifan lokal berupa sastra lisan, petatah petitih mengandung nasehat dan nilai-nilai yang urgen untuk diadopsi oleh masyarakat umum, terutama masyarakat Sumatera Barat. Berbagai nilai-nilai bijak dan kritis dalam mengahadapi berita hoaks, sudah lama termaktub di dalam petatah petitih sebagai sumber acuan hidup masyarakat.

Selain permasalahan mengenai isu hoaks, guncangan lunturnya budaya lokal juga perlu menjadi perhatian. Untuk itu, sosialisasi dan pemanfaatan kembali kebudayaan leluhur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, menjadi keharusan saat ini. Seperti ungkapan petatah petitih yang menyatakan “Barieh balabiah limo puluah, nan warieh bajawek juo, kaganti camin gujalo tubuah, paukua baying-bayang maso.” Pernyataan ini mengandung arti jika ajaran adat didalami, maka dia akan menjadi ukuran kemajuan zaman dibidang moral manusia. Alhasil, ketika formula dari nenek moyang ini kembali digaungkan, tentu akan menjadi benteng mengadapi penyebaran berita hoaks dan menciptakan akhlak yang tinggi di masyarakat.

Beberapa rekomendasi diatas merupakan solusi alternatif dalam menangkis penyebaran berita hoaks berbasis kearifan lokal. Selain memiliki misi untuk menekan penyebaran berita hoaks, tulisan ini juga mengajak dan memperkenalkan kembali warisan leluhur yang bisa diaplikasikan dalam upaya mengatasi permasalahan lintas zaman. Untuk merealisasikan ini semua, maka dibutuhkan peranan dan dukungan semua pihak. Andil pemerintah terutama yang mengurusi kebudayaan sebagai perumuskan kebijakan. Tokoh adat, budayawan dan cendikiawan sebagai key person pemegang pengetahuan kebudayaan. Masyarakat sebagai pemain peran utama dalam pelaksanaan dan implementasi nilai-nilai kebudayaan. Semua tokoh terkait, harus saling berintegrasi agar terciptanya proses demokratis, sehingga cita-cita dan harapan bersama dapat terealisasikan dengan luar biasa – (Yudi Ariski).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *