Powered by free wordpress themes

Saturday , October 23 2021
Home / Serba-serbi / Motor Motor Tua Blitar ”Ngengkel” Memanjat Bukit B29 Lumajang

Powered by free wordpress themes

Motor Motor Tua Blitar ”Ngengkel” Memanjat Bukit B29 Lumajang

Blitar, HarianForum.com-  Tepat pukul 08.00 (07/p9/2019) suara gemertak mesin motor lawas di depan kantor kabupaten Blitar terdengar dari rombongan pemotor yang dikomandani Agus Prasetya pemilik bengkel motor Anugurah, mulai bergerak merayap di jalan aspal menuju arah Malang. Agus Prasetya dengan sepeda motornya type C 70 produksi tahun 1979 atau motor sudah berusia 40 tahun, tampak percaya diri menghadapi perjalanan dengan medan jalan yang ekstrim ke B29.

”Saya belum pernah ke B29 dan saya mendapat informasi adanya jalan menanjak menuju ke puncak yang ekstrim dari media sosial. Maka untuk menyiapkan medan tersebut, kami kira kira sekitar dua bulan mulai menata semuanya dari mesin sampai body motor, serta perlengkapan lainnya,” ungkap Agus pemilik motor C70 tahun 1979 dengan kapasitas mesin 70 cc saat ditemui di Bengkelnya jalan Ciliwung kota Blitar.

Sesuai rute yang direncanakan, rombongan komunitas Anugerah bengkel motor jadul, tepat di jembatan perak yang terletak di Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro, Lumajang berhenti untuk sejenak menikmati pemandangan di sekitar jembatan yang dikenal dengan ”Piket Nol”. Sekitar 15 menit beristirahat rombongan pemotor mengambil jalan Candipuro untuk melanjutkan perjalanan ke Senduro.

Sampai di Senduro, kabupaten Lumajang, personil rombongan berhenti lagi untuk menunaikan perintah 5 waktu di masjid Baitussalam Senduro. Dan setelah dirasa tuntas melaksanakan kewajiban, suara deru mesin motor menyalak lagi, dan rantai menggerakkan roda memulai menapak jalan menuju desa Argosari dengan jarak tempuh kurang lebih 20 km.Desa Argosari merupakan desa berada di kawasan gunung Bromo, dengan mayoritas bersuku Tengger dan penduduk desa tersebut dengan mata pencahariannya kebanyakan dengan bertani sayur.

Memulai dengan jalan berliku disertai tanjakan tanjakan tajam, juga kondisi berkabut tebal dan dingin, akhirnya rombongan sampai di Desa Argosari, dengan gerbang selamat datang di ”Kawasan Wisata B29 desa Argosari kecamatan Senduro, kabupaten Lumajang” dengan perkiraan memakan waktu 1 jam dari Senduro.

Di dekat gerbang, saat rombongan pemotor berhenti istirahat selain untuk mempersiapkan stamina kendaraan, memulihkan fisik juga diperlukan dengan segelas kopi atau teh panas di sebuah warung dekat gerbang. Para pemberi jasa antar atau istilahnya tukang ojek mendekat dan mulai menawarkan jasanya dengan ramah. Mungkin pemberi jasa melihat kondisi motor rombongan dengan usia motor yang sudah tua dan kapasitas mesin motor yang kecil pesimis mampu bisa naik ke puncak.

Di depan warung kopi terbaca jelas, tiket masuk untuk masuk kawasan wisata Rp 5000,- sebuah harga yang murah untuk kawasan wisata dengan banyaknya keindahan alam yang dipamerkan .Dan untuk tarif jasa antar sampai ke puncak dikenakan Rp 75.000 sekali jalan, atau untuk pulang pergi Rp. 150.000,-.

Dari gerbang selamat datang rombongan melanjutkan perjalanan untuk menuju puncak dengan ketinggian 2900 mdpl, walaupun kabut semakin tebal dan dinginpun mulai terasa masuk tulang. Diperkirakan menempuh jarak 2 km perjalanan menuju pemberhentian tiket, dengan menggunakan gigi 1 dan 2 walaupun dengan 3 tetapi sangat jarang sekali masih belum terasa berat karena masih melewati jalan berbeton.

Mendekati puncak rombongan wajib berhenti di loket pembayaran. Nampak beberapa mobil dan motor terutama jenis matic yang terparkir di area loket. Untuk mobil dan motor jenis matic tidak diperbolehkan melanjutkan sampai ke puncak demi keselamatan.

Di area loket tersebut pemberi jasa antarpun menawarkan kembali jasanya untuk mengantar sampai ke puncak. Karena tujuan rombongan memang untuk menguji kekuatan mesin motor, semua personil rombongan menolak tawaran para jasa pengantar.

Salah satu personil rombongan, Djoko Pramono yang sudah berusia 60 tahun lebih, memberi semangat kepada rekan rekanya untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. ”Disini tujuannya uji mesin kendaraan masing masing. Kita dirumah kawan, tetapi di sini kita bertarung. Kalau ada kendaraan yang bermasalah di jalan maaf tidak ada yang membantu sebelum sampai di puncak,” tegas pemilik motor C 70 pembuatan tahun 1978.

Perjalanan jauh dari Blitar ke Lumajang jarak yang cukup jauh, namun saat melintasi jalan lereng pegunungan setelah Senduro membuat rombongan melupakan lelah, dan suasana jalan berkabut serta hawa dingin menambah perjalanan semakin menyenangkan.

Agus menuturkan pengalaman perjalanan ke B29 ”Selama diperjalanan panorama nampak indah sekali, namun perlu diperhatikan tentang keamanan saat berkedara. Menggunakan gigi 1 dan 2, menjaga emosi mengikut alur kekuatan mesin, tidak mempermainkan kopling untuk tanjakan ekstrim langkah yang baik. Karena sering menggantung kopling saat tanjakan bisa menyebabkan kampas kopling terbakar,” Menggunakan jasa antar sebenarnya lebih bijaksana bagi pengendara yang benar benar belum menguasai medan dan jalan.

Hindari menggunakan motor matic karena dikuatirkan rem tidak bisa bertahan lama saat menemui jalan menurun tajam,” lanjutnya “Untuk bekal, mungkin dari kami tidak membawa yang lebih, terutama pengendara karisma hanya berbekal uang 140 ribu,” tuturnya sambil tertawa. (Ans)

Check Also

Ikuti Program Pejuang Muda Kemensos, Mahasiswi Unisba Blitar Ingin Mendapat Pengalaman

Blitar, HarianForum.com- Kesempatan untuk memperoleh pengalaman secara langsung di daerah pasca bencana, daerah kantong-kantong kemiskinan, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *