Nganjuk, HarianForum.com-Pengurus Asosiasi Bawang Merah Indonesia Cabang Nganjuk (ABMI) antara lain Suprapto, Imam Mashudi, Zainal arifin, Ali Yubi dan Ali Ghazali, mendatangi rumah Ketua DPRD Tatit Heru Tjahjono, untuk menyampaikan uneg-uneg mereka.
Mereka dengan tegas menolak perluasan lahan bawang merah di daerahnya, hal itu dikarenakan surplus bawang merah di kabupaten Nganjuk belum tertangani dengan baik, akibatnya petani bawang merah merugi.
Saat ini, stok bawang merah ditingkat petani masih sekitar 50 persen yang belum terserap setara dengan 250 Milyar rupiah, hal itu dikarenakan anjloknya harga bawang merah yang mengakibatkan tidak ada putaran ditingkat petani, kondisi ini akan diperburuk lagi karena 10 hari kedepan petani bawang merah mulai panen lagi.

Total panen raya di Nganjuk season pertama kisaran 71 rb ton, BEP (Break Event Point) 14.500 /kg, sementara harga jual saat ini mencapai di titik terendah kisaran harga 8 -10 rb /kg, sehingga kerugian di taksir akibat Deflasi mencapai 250 M di season panen raya pertama.
Penjelasan itu disampaikan Imam Suhudi kepada Tatit Heru Tjahjono, Imam juga menambahkan saat ini semua tiarap, petani, tengkulak dan bahkan pedagang karena mereka tidak berani membeli bawang merah ditingkat petani karena faktor harga.

Oleh karena itu pengurus ABMI meminta minta hearing dengan DPRD dalam waktu dekat, setidaknya ada 5 tuntutan yang akan dibawa ke hearing nanti, antara lain, menolak perluasan lahan bawang merah, kedua ABMI meminta agar dibangunkan gudang, untuk tunda jual bawang merah.
Ketiga petani meminta agar pemerintah melalui dinas terkait melakukan penanaman berpola agar tidak terjadi panen raya, yang terakhir adalah bawang merah bisa masuk menjadi salah satu komoditi yang masuk daftar bantuan pangan non tunai