Minggu , Januari 29 2023
57 views

Menambah Potensi di Desanya, Dony Kembangkan Kopi Sehat

Blitar, HarianForum.com- Adanya sumber daya alam yang tersedia dengan diimbangi kualitas sumber daya manusia, baik dengan inovasi maupun kreasi akan membuahkan sebuah desa yang maju, yang menumbuhkan kemampuan desa dalam memenuhi kebutuhannya. Kepedulian maupun loyalitas warga terhadap desa untuk membangun kemajuan desanya menjadi salah satu modal yang paling mendasar.

Papungan merupakan salah satu diantara 220 desa di kabupaten Blitar, dan nama desa yang menurut cerita berasal dari kata Kepungan tersebut, berada di wilayah kecamatan Kanigoro, yang mempunyai catatan sejarah dengan adanya tokoh penemu salah satu ikan air tawar. Mbah Moedjair mempunyai nama asli Iwan Dalauk, seorang warga Blitar yang pertama kali menemukan dan membudidaya ikan mujair pada zaman Hindia Belanda. Dan sampai sekarang ikan air tawar ini, banyak diminati oleh konsumen sehingga permintaan pasar mengalami peningkatan secara terus menerus.

Dony Widodo (kiri).

“Warga terutama generasi muda di desa Papungan, saat ini terus berusaha untuk mengembangkan inovasi dan kreasi. Pemberdayaan dalam pengembangan bibit tanaman dan hasil industri rumah tangga menjadi salah satu penunjang kekuatan ekonomi warga desa. Pengolahan industri rumah tangga dari hasil pertanian banyak direspon dan diterima oleh pasar lokal maupun regional, bahkan ada yang sampai diekspor ke Hongkong dan Malaysia,” terang Dony Widodo kepada HarianForum.com, Kamis (18/6/20).

Pemuda penggiat di desa Papungan ini seakan akan tidak pernah lelah untuk menggali sebuah kearifan lokal, bahkan tetap semangat dalam mengembangkan potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusia untuk kemajuan desanya. Bahkan saat ini Dony memulai sebuah inovasi dengan sebuah produksi kopi sehat, dimana biji kopi sebelum diolah menjadi bubuk kopi harus dilakukan fermentasi terlebih dahulu. Dan inovasi yang dilakukannya, diharapkan bisa menambah asset potensi unggulan di desanya.

Pada saat menikmati segelas kopi sehat hasil produksinya, Dony Widodo menceriterakan bahwa kopi yang difermentasi merupakan biji kopi hasil petikan petani dari tanaman kopi jenis Arabica, yang tumbuh subur di beberapa dataran tinggi di kabupaten Blitar dan sekitarnya terutama di lereng gunung Kelud maupun gunung Kawi.

“Setelah difermentasi, biji kopi akan melekat satu dengan yang lain. Jika biji tersebut tidak saling melekat, maka proses fermentasi harus diulang, dan setelah biji kopi dicuci bersih, jadilah white cofee yang sebenarnya. Setelah dijemur dan agak kering, uji ketelatenan dimulai dengan menggunakan ketajaman mata. Yang harus dilakukan dengan teliti yaitu memilih dan membuang biji kopi yang berwarna putih karena masih muda saat dipetik, dan kalau ada yang berwarna hitam juga harus dibuang karena warna tersebut menunjukkan biji kopi terserang hama atau penyakit. Yang baik adalah biji kopi yang berwarna coklat muda atau tua,” pungkas Doni Widodo yang akan tetap menjaga kualitas kopi produknya menjadi kopi yang aman bagi lambung.(Ans)

Check Also

Pasca Pandemi Covid-19, SIG Ghopo Tuban Kembali Terima Kunjungan Industri Dari Lembaga Pendidikan

Tuban, HarianForum.com –  PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) Ghopo Tuban kembali membuka penerimaan kunjungan industri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *