Powered by free wordpress themes

Sunday , November 28 2021
Home / Pertanian / Melepas Ketergantungan Import Gandum, Dengan Budidaya Sorgum

Powered by free wordpress themes

Drajat Nughroho dari Lab KPAK unit Tulungagung, konsisten membudidayakan sorgum.

Melepas Ketergantungan Import Gandum, Dengan Budidaya Sorgum

Tulungagung, HarianForum.com- Masyarakat Indonesia hampir 50 tahun. mengenal makanan yang berbahan gandum, bahkan sampai sekarang tanaman serelia ini semakin disukai oleh masyarakat Indonesia. Konsumsi akan gandum terjadi adanya trend masyarakat pola diet dengan merubah konsumsi berbahan beras dengan gandum dan gaya diet kekinian semakin hari semakin meluas. Namun sayangnya untuk memenuhi kebutuhan bahan makan berbasis tepung gandum tersebut, tidak didukung adanya pembudidayaan tanaman serealia ini secara mandiri.

Untuk memenuhi kebutuhan gandum, selama tahun 2016 impor gandum dari Australia, Ukrania dan Kanada sebanyak 10,53 juta ton dengan nilai 2,400.000.000 US$. Sedangkan Amerika Serikat pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2018, negaranya telah mengekspor gandum ke Indonesia 12,5 juta ton. Sehingga Indonesia telah menggeser kedudukan Mesir sebagai pengimpor gandum dunia, karena pada tahun ini negeri pyramida telah mengimpor 12 juta ton.

Indonesia sebenarnya mempunyai potensi dan kaya raya dengan keaneka ragaman hayati yang luar biasa. Kalaulah tanaman gandum bisa tumbuh berkembang di Amerika, Kanada, Australia, Ukrania dan negara sekitar Laut Merah dan Laut Mediterania, tanaman Sorgum yang masih sekeluarga dengan gandum dapat tumbuh bahkan dapat dibudidayakan dengan baik di Indonesia.

Masyarakat Jawa mengenal sorgum bicolor dengan nama cantel, atau gandrung. Tanaman yang mempunyai karakter tahan kering, kegagalan dalam berproduksi yang rendah dan mempunyai batang tanaman kuat ini, merupakan satu keluarga dengan tanaman serealia lainnya seperti gandum, padi, jagung, tebu dan bambu.Tanaman yang menyukai lahan kering ini rata-rata tinggi tanaman 2,5 sampai dengan 4 meter dan daun sorgum mirip dengan tanaman jagung.Selain dijadikan tepung, biji sorgum mempunyai kandungan pada serealia lain seperti jagung, gandum, dan barley. Di dalam biji sorgum mengandung tiga jenis karbohidrat yaitu pati, gula terlarut, dan serat. Sedangkan kandungan gula terlarut pada sorgum terdiri dari sukrosa, glukosa, fruktosa dan maltosa.

”Cantel atau gandrung nama lain dari sorgum , tanaman ini mempunyai karakter tahan kering, rendah resiko kegagalan dalam produksi dan mempunyai batang tanaman kuat. Sebenarnya tanaman sorgum sekeluarga gandum, padi. Pohon dan daun sorgum mirip dengan daun jagung. Selain biji sorgum dijadikan tepung, bisa juga dijadikan sumber bahan baku untuk gula, karena dalam bijinya terdapat kandungan tiga jenis karbohidrat yaitu pati, gula terlarut, dan serat. Sedangkan kandungan gula terlarut pada sorgum terdiri dari sukrosa, glukosa, fruktosa dan maltosa. Rencananya kami akan membudiyakan tanaman tersebut sebagai pengganti gandum,” jelas Drajat Nughroho ketua Lab KPAK unit Tulungagung.

Drajat melanjutkan penjelasannya dalam pembudidayaan sorgum. Menurutnya pembudidayaan sorgum dapat dilakukan di sekitar wilayah Tulungagung dan Blitar bagian selatan. Bijinya bisa diolah baik menjadi tepung terigu dan juga bisa digunakan menjadi gula. Dengan pengamatannya, pembudidayaan sorgum mempunyai nilai signifikan bagi petani.Drajat bersama petani memulai budidaya tanaman tersebut dengan sistem tumpang sari.

”Dalam budidaya tanaman sorgum bisa dilakukan penanaman di lahan sekitar wilayah Tulungagung dan Blitar, namun dengan syarat bahwa lahan atau kondisi tanah yang kering dan ketinggian diperkirakan tidak lebih dari 600 dpl. Untuk lahan yang tepat, selatan sungai atau mberang kidul merupakan lokasi yang tepat untuk membudidayakan sorgum,” ujarnya.

”Pengolahan tanaman sorgum, bijinya bisa diolah menjadi tepung terigu juga bisa digunakan sebagai gula. Prospek pembudiyaan sorgum sangat signifikan bagi petani, karena resiko kegagalan produksi sangat rendah dan efisiensi lahan dengan cara tumpang sari.Sedangkan untuk masa panen bila digunakan tepung memerlukan waktu panen 110 hari, apabila dijadikan gula dalam waktu 60 hari sudah bisa dipanen. Kami bersama teman teman petani memulai budidaya dengan sistem tumpang sari dengan tanaman jagung di desa Tegalrejo, kecamatan Rejotangan kabupaten Tulungagung,“ lanjutnya saat ditemui di lab KPAK unit Tulungagung, yang berlokasi di Rejotangan

Mengkonsumsi makanan yang menggunakan dari bahan tepung gandum memang banyak yang menyukainya. Karena tingginya gluten yang dikandung oleh gandum, menjadikan elasitisitas pada terigu sehingga makanan tersebut apabila diolah menjadi makanan akan terasa kenyal.Akan tetapi apabila terlalu banyak mengkonsumsi makanan dari tepung yang mengandung gluten akan berdampak tidak signifikanya untuk kesehatan tubuh, salah satunya timbulnya celiac desease.

Sedangkan sorgum, bebas dari gluten atau gluten free maka tepung sorgum apabila dijadikan bahan makanan, tidak mempunyai elastisitas pada tepung dan yang pasti tidak menimbulkan kekeyalan. Namun didalam tepung sorgum terdapat beberapa senyawa fenolik, dan berfungsi selain anti oksidan juga anti tumor. Bahkan senyawa yang terkandung didalam sorgum juga mampu menghambat aktivitas berkembangnya virus, dan sorgum juga sangat baik dikonsumsi oleh penderita kanker maupun penderita jantung.(Anis)

Check Also

Trap Barrier System, Perangkap Tikus Sawah Paling Efektif

Blitar, HarianForum.com- Sudah Jatuh Ditimpa Tangga, ibarat paling tepat dirasakan oleh Sriamin, seorang petani yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *