BLITAR – Harianforum.com Dikatakan Sugianto ketua Paguyuban Pelestari Sendang Mbah Bawuk, agenda do’a bersama majelis Faghfirli dan GKJW Blitar diagendakan sudah 1 bulan yang lalu.Penggiat lingkungan sumber air Mbah Bawuk dikenal dengan panggilan Gombloh mengungkapkan, gelar do’a bersama majelis pengajian Faghfirli dengan GKJW, merupakan bagian dari rencana awal agenda penanaman pohon bersama, yang mana sesuai dengan rencana sebelum dilakukan penanaman pohon, terlebih dahulu menggelar do’a dibarengi sedekah bumi “Kenduri Polo Pendem”.
Sugianto melanjutkan penjelasannya, kenduri polo pendem nantinya akan diupayakan ada hidangan singkong, ubi jalar, mbote, gembili, suweg, uwi dan kacang tanah, dengan menambahkan lebih lengkapnya ditambah jagung manis, waluh serta pisang rebus.Menurutnya polo pendem bahan pangan berasal dari tanah dijadikan pengingat manusia akan kembali ke tanah.Tidak hanya itu, penggiat lingkungan sendang mbah Bawuk juga memaparkan bahwasanya polo pendem yang sama – sama tumbuh di dalam tanah, bisa dimaknai dalam kehidupan tidak ada yang lebih tinggi status sosialnya, agama yang diyakini maupun tingkat ekonominya, semua sama.Dan kenduri polo pendem merupakan tradisi sedekah bumi, dipercaya sebagai simbol untuk memohon keselamatan atau upaya penolak bala.
” Insya Allah, tanam dan do’a bersama akan dilaksanakan hari Sabtu tanggal 7 Pebruari.Dalam do’ a bersama inisiatifnya memang majelis Faghfirli dan GKJW, tetapi kami sangat membuka lebar bila ada majelis lain atau gereja – gereja selain GKJW yang ikut berpartisipasi, ini kegiatan terbuka untuk siapa saja.Untuk komunitas, yang ingin berpartisipasi menurut pak camat Sananwetan adalah Sahabat Alam, namun kalau ada komunitas lain ingin bergabung, monggo kami dengan senang hati .” jelas Sugianto.
” kami sengaja tidak mengundang secara resmi pejabat atau tokoh – tokoh, tetapi kami mengajak semuanya dengan niat kesadaran.Saat ini yang sudah menyatakan ikut berpartisipasi pak Tan Ngi Hing, anggota DPRD Kota Blitar.Pak camat Sananwetan dan pak Lurah Karang Tengah juga mendukung penuh dilaksanakan acara tanam pohon dan do’a bersama ” tambahnya.(30/1)

Disinggung untuk rute ideal menuju lokasi sendang mbah Bawuk, Gombloh menyarankan lebih baik melalui jalan Sumba, dikarenakan bila melalui jalan Kenari, jembatan bambu pada saat ini sangat tidak layak untuk dilewati pengunjung.
” kalau saran kami sebaiknya melalui jalan Sumba, nanti ada perempatan ke barat menuju sekolah Al – Ghifari, kendaraan sepeda, sepeda motor maupun mobil bisa parkir di lapangan.
Kalau dari jalan Kenari, masalahnya jembatan bambu kondisinya sekarang sangat parah sekali, urusannya dengan keselamatan.Saat ini kami memang memperbaiki secara swadaya baik dana maupun tenaga, tetapi digunakan untuk anak – anak sekolah yang setiap hari mengambil jalan pintas dari SMP 8 atau SMK ” tandas Sugianto, ditemui saat memperbaiki jembatan bambu kondisi darurat bersama relawan pelestari Sendang Mbah Bawuk.(Ans).












