BeritaEkonomi

LAPIS LEGIT ” DAPOERRYN ” SURABAYA, PRODUK ALUMNI SMPN 1 TULUNGAGUNG.

160
×

LAPIS LEGIT ” DAPOERRYN ” SURABAYA, PRODUK ALUMNI SMPN 1 TULUNGAGUNG.

Sebarkan artikel ini

Tulungagung, Harianforum.com – Lulus SMA di Tulungagung, Rahmawatiningsih melanjutkan jenjang pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Malang.Setelah meraih gelar sarjana, Nining panggilan akrab salah satu alumni 87 SMPN 1 Tulungagung memulai karier di Bank Bumi Daya yang mana pada bulan Juli tahun 1999, bank milik BUMN tersebut dimerge dengan tiga bank pemerintah yang lainnya menjadi Bank Mandiri.Beberapa tahun menjalani aktivitas profesi bidang perbankan di Tangerang, Rahmawatiningsih mengajukan pindah ke kota lain karena jodohnya terpaut di Surabaya.

Nining saat ini merupakan warga kota Surabaya yang tinggal di kelurahan Pacarkembang, Tambaksari Kota Surabaya, menceritakan usaha tata boga di kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta,
yang dirintis putrinya dan dikembangkan.Diceritakan, usaha kue berawal Nadia Chusna Maharani Auryn yang tidak berkenan menjadi seorang ” white collar ” atau pekerja kantoran, meskipun Nadia Chusna lulusan perguruan tinggi negeri mentereng di Surabaya.

Dituturkan, pada tahun 2019 Rahmawatiningsih resign atau mengundurkan diri dari pekerjaan di bank, dan pada saat banyak waktu diluangkan di rumah, Nining melihat Nadia Chusna menyukai membuat kue donat yang kemudian dijalankan sampai sekarang.

” anak saya kuliahnya di Unair jurusan akutansi, tetapi tidak mau bekerja di kantor.Pada tahun 2019 saya resign dari bank, kemudian saya melihat anak saya ternyata senang membuat kue, awalnya donat hingga sampai sekarang tetap membuat.Kalau setiap menjelang lebaran lebih banyak membuat kue kering dan lapis legit.Sedangkan hari biasa yang banyak dicari kue donat dan burger ” tutur Rahmawatiningsih
kepada Harian Forum.com (23/2)

Kecenderungan belanja lebaran tahun 2026 diprediksi, dalam berbelanja masyarakat akan lebih terukur.Kebijakan tersebut diambil karena lemahnya daya beli konsumen, sehingga kecenderungannya akan lebih selektif lagi untuk kebutuhan kue lebaran tidak menjadi primer lagi, akan tetapi bergeser pengeluaran sekunder.
Dan dampaknya, pelaku harus melakukan inovasi maupun langkah strategis, salah satunya memaksimal penawaran dan penjualan melalui online dan penyesuaian harga.

Rahmawatiningsih juga mengakui bahwa pada hari – hari biasa seperti saat ini, tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan meskipun dirinya dengan Nadia Chusna telah memaksimalkan metode pemasaran untuk donat dan burger olahan ” Dapoerryn ” melalui beberapa platform digital.

” lebaran tahun ini tidak seramai dua atau tiga tahun yang lalu, berbeda dengan awal – awal membuat kue kering.Kalau saat ini Alhamdulillah, karena ada reseller yang membantu, tetapi kalau dibanding tahun lalu berkurang, termasuk yang pesan hampers juga berkurang.Dulu yang pesan bisa 10, kemudian menurun 6, dan tahun ini ada pesanan 1.” ungkapnya.

” tahun ini membuat kue kering dan lapis legit, anak saya kemarin mau jualan atau tidak, karena anaknya usianya masih 4 bulan.Tetapi karena ada yang menanyakan kue kering akhirnya berjualan.Saat ini yang rame kue lapis legit, makanya sekarang arahnya lebih ke lapis legit, bisa dikirim keluar kota atau keluar pulau.Yang terjauh dikirim ke Ambon, meski banyak juga yang dikirim ke luar kota – kota yang lain.Kue lapis legit lebih aman dibanding kue kering, maka kalau kue kering hanya bisa untuk dalam kota, tidak berani luar kota ” jelas Rahmawatiningsih bersama Nadia Chusna Maharani Auryn, warga Tulungagung yang mengembangkan usaha pembuatan kue di Surabaya.(Ans).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *