Powered by free wordpress themes

Monday , August 26 2019
Home / Serba-serbi / Kisah Inspiratif WBP Lapas IIB Dan EKS Napi Dirikan DM NUN Demi Dedikasi Hingga Sepenggal Puisi Untuk Negeri

Powered by free wordpress themes

Kisah Inspiratif WBP Lapas IIB Dan EKS Napi Dirikan DM NUN Demi Dedikasi Hingga Sepenggal Puisi Untuk Negeri

Tuban, HarianForum.com- Sekelompok eks napi bentuk wadah bernama Dedikasi Mantan Napi Untuk Negeri (DM.NUN) bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas IIB Tuban, bertujuan untuk hijrah demi mengabdikan diri terhadap kegiatan – kegiatan lingkungan sosial kemasyarakatan dan cinta NKRI.

Nampak berbaju garis bersih dan berprawakan badan kekar mengenakan peci hitam khas Nusantara seorang eks napi bernama Eko Sugianto alias Ambon kenken (44th) berdiri berjejer di tengah jajaran pejabat Asset 4 General Menager PT Pertamina, Cepu Field Maneger, Asset 4 L&R Maneger dan Kepala Lapas IIB Tuban.

Pria kekar berpeci hitam itu, lebih dikenal dengan panggilan Ambon Kenken pada saat itu, ikut hadir pada peresmian CSR PT Pertamina EP asset 4 Field Cepu dalam progam pembangunan penyulingan minyak kayu putih dan peletakan batu pertama pembangunan peternakan ayam di Wahana Edukasi Asimiliasi (WAE) BKPH Merakurak KPH Tuban. bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) lain yang turut serta menghadiri peresmian tersebut.

Ambon tak lain adalah seorang alumni kasus 369 yang sejak tahun 2013 dirinya menghirup udara bebas setelah mondok dibalik jeruji lapas IIB Tuban. Kini sekarang di tahun 2019, ia didaulat sebagai ketua DM NUN yakni sebuah wadah bagi eks napi untuk kembali berdedikasi ke lingkungan sosial kemasyarakatan dan membangun semangat cinta NKRI.

Saat wartawan mencoba menyapa, Ambon mempersilahkan kami duduk dikursi yang telah disediakan, dengan nada suara ramah, dia membuka sebuah perbincangan mengingat kembali cikal bakal terbentuknya wadah DM NUN yang kini, sudah beranggotakan puluhan eks napi dari berbagai wilayah tuban

“Awalnya kita bertiga sering diajak bapak kalapas berkumpul ikut kegiatan mengaji sebulan sekali lalu berdiskusi bersama tokoh adat di Tuban selatan. Kemudian, hasil rutinitas di musola dan diskusi di Bangilan, terbentuklah wadah DM NUN ini dan sudah beranggotakan 53 anggota,” tuturnya.

Meski pada awal perjalannya berdirinya wadah itu, dirinya, menyadari adannya tantangan dari sebagian khalangan masyarakat yang berpendapat bahwa eks napi dipandang sebelah mata bahkan ke arah pandangan negatif. Terkadang membuat dirinya beserta anggotanya was was atau minder untuk tergerak memberikan sumpangsih kepada masyarakat dan lebih terhadap NKRI.

“Selama ini masih ada pandangan negatif maupun skiptis terhadap eks napi yang di anggap sampah bagi masyarakat,” Ucapnya.

Untuk itu, dia bersama anggota wadah DM NUN bertekat dapat mengawali pengabdian diri bagi seorang eks napi terhadap lingkungan masyarakat seperti bersih musola, mbangun budaya gotong royong bersama masyarakat lain. Dengan begitu, Kegiatan – kegiatan positif yang kita lakukan akan mengembalikan citra baik eks napi di mata masyarakat sekitar lingkungan tersebut,” Imbunya.

Saat ditanya bagaimana proses masuk menjadi bagian dari wadah MD NUN, Eko ambon mengakui rekrutmen anggota harus benar benar niat insyaf dulu. khawatirnya, jika salah satu anggota kembali neko neko lagi secara otomatis komunitas atau wadah yang sudah ada disini akan berimbas jelek dan salah semua.

“Yo kudu benar benar di filter dengan niat hijrah tidak mau neko neko lagi hanya untuk membangunan NKRI, artinya insyaf lahir batin. Khawatirnya, kalau tidak ada niat insyaf. Satu saja kembali jelek tentu akan menjadi blunder bagi wadah dan kegiatan kami.”Ucap, Eko Sugianto alias Ambon. Senin (6/8).

Sementara itu, dibentuknya wadah untuk eks Napi sebagai pesan moral hijrah mereka untuk berbakti kepada masyarakat dan cinta NKRI seperti pesan singkat dituliskan.

”Lentera tak selamanya menerangi selalu ada bayang yang hitam bercerita tentang nasib manusia adakah yang disana pada kelihatan jelaga ?

disini hati kami bernyanyi, dalam nada tunggal, Kemerdekaan adalah segalannya.

Lapas adalah wahana mulia,tempat keluarga kami yang khilaf bertapa, tatkala semua telah berputus asa membinanya. Lapas menjadi padepokan terakhir, menjadi gerinda yang mengasah untuk menjadi titik balik “ menghijrah” tempat bangsa ini menggantungkan harapan. Lapas,Kamu tahu jeritanmu, kesusahanmu, keterbatasanmu.

Merubah perampok menjadi pejuang, Merubah maling menjadi eling, Merubah kriminal menjadi sosial, merubah energi negatif menjadi positif. Bukan perkara mudah, membina untuk memenusiakan manusia, Tak sekedar merangkai gugusan konsep Tapi juga membutuhkan Penalaran rasa dan prasarana. Pemda dan perhutani cukup peduli, Diluar itu -semua, Hanya pertamina yang baru simpati dan berkontribusi,” Tulis, Penasehat DM NUN, Mujoko Sahid melalui pesan singkatnya.

Terpisah, menanggapi adannya wadah DM NUN oleh Kalapas IIB Tuban, Sugeng Indrawan menjelaskan.

“Tidak ada jarak bagi WBP dan Eks Napi. karena,setiap hari kami berdekatan dengan narapidana menjadikan semangat revolusi mental bagi kami untuk menggandeng mereka mereka yang ada disini, ” ucapnya.

Menurut dia, pelayanan memberi pengarahan kepada jajaran pegawainya di Lapas IIB, terhadap pembinaan napi dalam lapas (WBP) maupun Eks Napi di luar lapas, Pihaknya, menempatkan diri sebagai teman maupun pembimbing terlebih pegawai senior merupakan murid bagi warga binaan. dengan begitu. Mereka,Napi WBP akan selalu terpacu untuk berkarya dalam hal kegiatan positif seperti edukasi Asimiliasi dan juga kegiatan pesantren lapas. Sedangkan, bagi Eks Napi adanya wadah DM NUN akan tetap menjaga hubungan emosional yang sudah terbentuk selama menjadi narapida maupun sesudah kembali ke masyarakat.

“Kami dibawah naungan Kemenkumham RI menjadi salah satu tolak ukur kinerja keberhasilah pembinaan di Lapas adalah saat eks Napi tidak lagi melanggar hukum maupun kejahatan. Semoga, niatan napi dalam lapas WBP maupun dari Eks napi (DM NUN) untuk kembali berkiprah ke lingkungan masyarakat dan cinta KNRI diridhohi dan disuppot oleh semua pihak. ” harapnya.

Senada dikatakan oleh Mahasiswa kampus Universitas Brawijaya Malang saat mengadakan Praktek Kerja Lapangan di Lapas IIB Tuban, Mochammad caesaryanto mengapresiasi inovasi revolusi mental seperti yang telah lakukan oleh Kalapas Lapas IIB Tuban.

“Bagi kami Napi (WBP) bukanlah orang yang hina,jahat setelah belajar studi mengenal mereka (Napi) di Lapas. mereka adalah yang khilaf melakukan kejahatan semoga yang sedang didalam lapas setelah selesai menjalani hukuman kelak menjadi pribadi lebih baik seperti Eks Napi untuk bertekad mendedikasikan diri ke hal positif di lingkungan masyarakat serta mengamalkan pembinaan mental kecintaannya terhadap Negara,” Ujarnya.(tbn01)

Check Also

Resmi Dilantik, Ini Komitmen Kades Temandang

Tuban, HarianForum.com- Setelah resmi dilantik untuk ketiga kalinya sebagai kepala desa Temandang, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *