Blitar, HarianForum.com – Mengutip tulisan Prawoto Sadewo wartawan Memo.co.id, (2/1) telah memberitakan bahwa proses rekrutmen tenaga kebersihan di RSUD Mardi Waluyo Kota Blitar kembali menyisakan persoalan serius. Sejumlah tenaga kebersihan yang telah dinyatakan lolos seleksi, bahkan sudah mulai bekerja sejak Rabu, 1 Januari 2026, mendadak menerima kabar pahit kelulusan mereka dibatalkan secara sepihak.
Pembatalan disampaikan oleh PT Sasana Bersaudara Indonesia, perusahaan penyedia jasa rekrutmen tenaga kebersihan RS Mardi Waluyo. Dalam pengumuman resminya, perusahaan berdalih pembatalan dilakukan akibat adanya kendala internal perusahaan.
Akibat keputusan tersebut, seluruh tenaga kebersihan yang telah lolos seleksi termasuk mereka yang menjalani shift dua pada 1 Januari 2026 dinyatakan tidak lagi bekerja. Pihak perusahaan memang menjanjikan kompensasi upah atas pekerjaan yang telah dilakukan. Namun, janji itu tak cukup menutup luka para korban.
“Bukan soal kompensasi. Tapi proses rekrutmen ini ruwet, amburadul, dan tidak manusiawi. Kami diperlakukan seperti barang pakai buang,” ujar salah satu tenaga kebersihan yang kelulusannya dibatalkan.
Diperoleh informasi dari sumber internal bahwa PT Sasana Bersaudara Indonesia bahkan memilih memutus kerja sama dengan RS Mardi Waluyo, meski kontrak tersebut baru saja dimulai.
Sumber menyebut, keputusan pencabutan perjanjian kerja sama itu dipicu oleh kuatnya dugaan intervensi dalam proses rekrutmen, termasuk adanya titipan calon tenaga kerja dari sejumlah orang dekat penguasa yang tidak lolos seleksi resmi.
Ironisnya, sejumlah calon tenaga kerja titipan tersebut diduga telah menyetorkan uang pelicin, namun tetap tidak memenuhi standar seleksi perusahaan.
“Perusahaan ini berdiri sejak 2014 dan selama ini menjaga profesionalitas. Kalau proses rekrutmen mulai diintervensi, risikonya besar ke depan. Lebih baik mundur sejak awal daripada rusak reputasi,” ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sumber yang sama bahkan menyebut adanya aroma politik dalam kisruh ini.
“Patut diduga ada orang dekat Wali Kota yang membawa orang. Karena tidak lolos seleksi, lalu dimasukkan lewat jalur belakang. Kalau dibiarkan, perusahaan yang kena getahnya,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, diperoleh informasi sejumlah tenaga kebersihan titipan diduga sudah lebih dulu bekerja sejak Desember 2025, padahal kontrak kerja sama PT Sasana Bersaudara Indonesia dengan RS Mardi Waluyo baru berlaku per 1 Januari 2026.
Akibatnya, beban honor tenaga kerja yang masuk lebih awal tersebut diduga dibebankan kepada pihak perusahaan, meski mereka tidak pernah direkrut melalui mekanisme seleksi resmi.
Para tenaga kebersihan yang kelulusannya dibatalkan mengaku mengalami kerugian besar. Selain waktu dan tenaga, mereka telah mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk SKCK, pas foto, hingga tes kesehatan.
“Kami ini rakyat kecil. Semua persyaratan kami penuhi pakai uang sendiri. Tapi ujung-ujungnya dibatalkan begitu saja,” keluh salah satu korban.
Sementara itu, Plt Direktur RS Mardi Waluyo dr. Bernard Theodore Ratulangi, Sp.PK, saat dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui secara detail persoalan tersebut.
“ Itu saya tidak tahu persis ya.Artinya PT hanya menyampaikan adanya kesalahan teknis. Kami sendiri pusing dengan persoalan ini,” ujarnya.
Ia juga mengaku pihak rumah sakit sempat melakukan briefing kepada tenaga kebersihan yang dinyatakan lolos.
“ Sudah kami briefing mengenai tugas-tugasnya, tapi oleh pihak PT malah diganti orang-orangnya,” katanya.
Menurutnya, pihak rumah sakit juga telah menegur perusahaan rekanan tersebut.
“Kami sudah menegur PT-nya. Kok bisa seperti itu. Tapi soal penggantian pekerja, kami tidak tahu. Kalau terkait titipan, saya tidak tahu sama sekali,” tegas dr. Bernard.
Ia menambahkan, jika benar ada tekanan eksternal, dampaknya justru dirasakan oleh pihak rumah sakit.
“Kalau seperti ini, rumah sakit juga yang kena dampaknya, padahal itu bukan kesalahan kami. Tanggung jawab rekrutmen ada di PT,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak PT Sasana Bersaudara Indonesia belum memberikan klarifikasi.Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp tidak dibalas, sementara panggilan telepon juga tidak direspons meski nomor yang bersangkutan terpantau aktif.
Kisruh rekrutmen tenaga kebersihan ini menambah panjang daftar persoalan tata kelola di RS Mardi Waluyo.Transparansi, profesionalitas, dan keadilan dalam proses rekrutmen kembali dipertanyakan. Di tengah hiruk pikuk kepentingan, para pencari kerja justru menjadi korban nyata. (Ans).












