Powered by free wordpress themes

Monday , September 27 2021
Home / Politik dan Pemerintahan / Kasus Bunuh Diri Remaja di Jatim Jadi Sorotan KPAI

Powered by free wordpress themes

Petugas Kepolisian Menunjukkan Surat Wasiat Yang Ditulis Epa Sebelum Tewas Dengan Cara Gantung Diri (rad/pek)

Kasus Bunuh Diri Remaja di Jatim Jadi Sorotan KPAI

Jakarta, HarianForum.com – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merasa prihatin atas kasus bunuh diri dua remaja di Jawa Timur (Jatim), karena dalam tempo yang bersamaan dua remaja di Jatim nekat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Mereka adalah Epa (16) dan BI (15).

Epa bunuh diri karena takut tidak diterima di salah satu sekolah favorit di Kota Blitar, sedangkan BI bunuh diri karena ingin dibelikan sepeda motor.

Komisioner KPAI bidang pendidikan Retno Listyarti mengatakan bahwa, menghadapi anak-anak di usia yang baru pubertas memang tidak mudah, dirinya mendorong orang tua atau guru untuk memiliki kepekaan, sehingga mampu mencegah remaja bunuh diri.

“Orang dewasa di sekitar anak harus memiliki kepekaan atau sensitivitas, sehingga bisa mengenali gejala anak akan bunuh diri, misalnya menunjukkan prilaku stress berat. Lantas orang dewasa harus berusaha mencarikan solusinya.” Jelas Retno di Jakarta, Jumat (1/6/18).

Menurut Retno, usia remaja bisa menjadi periode dalam hidup yang dipenuhi rasa khawatir dan stress. Remaja dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sementara itu remaja juga memiliki kecenderungan untuk merdeka atau kebebasan.

Atas kematian salah satu siswa karena takut tidak diterima masuk sekolah favorit, menurut Retno upaya mengkritisi kebijakan zonasi yang diterapkan pemerintah bukan tindakan bijak, karena sistem zonasi masih menimbulkan banyak persoalan yang perlu dikritisi. Namun sejatinya sistem zonasi memiliki tujuan yang bagus.

Sedangkan menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Epa bunuh diri bukan karena takut tidak bisa masuk sekolah favorit, karena menurut laporan yang diterima, Epa merupakan siswa yang cerdas, Sehingga peluang untuk masuk ke sekolah favorit cukup besar.

Muhadjir juga membantah jika sistem zonasi menutup kemungkinan siswa untuk bisa memilih sekolah di luar zona.

“Semua sekolah boleh menyediakan lima hingga sepuluh persen untuk siswa dari luar zona. Saya sangat menyayangkan beredarnya berita yang mengaitkan kasus tersebut dengan kebijakan zonasi.” Tutur Muhadjir. (Rad/Pek/Frm)

Check Also

Kang Marhaen Hadiri Peletakan Batu Pertama Renovasi Masjid Nurul Huda

Nganjuk HarianForum.com – Kang Marhaen didampingi Kepala OPD  menghadiri acara peletakan batu pertama Renovasi Masjid …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *