Powered by free wordpress themes

Thursday , October 21 2021
Home / Pariwisata / Di Mega Wisata Selo Park, Diusia ke 17 Apfal Nganjuk Gelar Workshop

Powered by free wordpress themes

Dian Yohanes, bersam model saat memberi materi workshop.

Di Mega Wisata Selo Park, Diusia ke 17 Apfal Nganjuk Gelar Workshop

Nganjuk, HarianForum.com- Peringati ulang tahun ke 17 Apfal (Asosiasi Photografi dan Vidiografi) Nganjuk, hari ini Minggu (31/03/2019) di Selo Park Jatikalen digelar workshop wedding photografi dan problematika.

Junaedy Iksan Sanjaya ketua Apfal Nganjuk yang juga sebagai panitia mengatakan bahwa, workshop ini diikuti sekitar 120 orang peserta yang terdiri dari 10 komunitas dari Jawa Timur yakni, Lumajang, Pasuruan, Jombang, Madiun, Ngawi, Tulungagung, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Kediri dan 2 komunitas dari Jawa Tengah yakni perwakilan komunitas Solo dan Karanganyar, “Apfal ini saya rintis tahun 2002, dan saat ini di nganjuk ada sekitar 50-100 anggota aktif dan sebagian lagi anggota dalam katagori tidak aktif juga banyak,” ungkapnya.

Dian Yohanes dari delta independen sebagai narasumber mengatakan kepada kabar nganjuk usai workshop bahwa, “Fokus materi hari ini adalah lightthing photografi tradisional, dan ini panitia pas milihnya lokasi, tempat ini selain indah, alami, dan juga luas, fasilitas parkirnya juga luas sehingga bisa dipertimbangkan oleh photografer yang hari ini hadir untuk acara – acara prewed mereka, dan ini bagus saya rasa untuk icon wisata Nganjuk,” ujarnya.

Selain itu Dian Yohanes juga mengatakan outputdari acara ini adalah, agar rekan-rekan komunitas photografi dapat menyajikan hasil karya yang maksimal, dalam menyiasati obyek photo yang tidak edial, bagaimana cara itu bisa dilakukan secara tradisional maupun dengan cara dengan tehnologi photograpy dengan menggunakan pencahayaan,” ungkapnya.

Saya berharap, apa yang saya sampaikan tadi, bisa menjadi bekal bagi peserta worlshop di lapangan dalam menghadapi semua problematika dalam menjalankan profesi mereka.

Karena terkadang, tambah pria berambut putih yang sudah 40 tahun menekuni dunia photograpy ini, seperti misalnya, postur tubuh yang mungkin tidak normal ada yang kurus ada yang gemuk, terus solusinya apa, itulah problema yang dihadapi.

Bahkan Dian juga menjelaskan bahwa Potografi itu melukis dalam cahaya, “Kalau kita melukis potografi memang dari latar belakang bahasa photos adalah menggambar grapis dengan cahaya jadi melukis dengan cahaya, jadi kalau photografis tanpa cahaya tidak mungkin, kecuali melukis dengan cat pasti membutuhkan cat, klo photografi melukis dengan cahaya jadi harus ada cahaya entah itu cahaya matahari,” jelasnya.(Nur)

Check Also

Sejarah Kayangan Api Ing Bedander Bojonegoro

Bojonegoro, HarianForum.com- Api menyala terus terang dan terang terus menerus sejak tahun 1314. Saat Prabu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *