Berita

Perbincangan Aktual, Open House Di Dalem Ning Eva Pengasuh Ponpes DNE Al Falah Ploso Kediri.

52
×

Perbincangan Aktual, Open House Di Dalem Ning Eva Pengasuh Ponpes DNE Al Falah Ploso Kediri.

Sebarkan artikel ini

Kediri, HarianForum.com – Menjawab pertanyaan dengan adanya sebagian masyarakat yang memberikan penilaian terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga berdampak pada beban pendidikan, terutama biaya di perguruan tinggi, Nyai Hajjah Eva Munaifah Djazilah atau akrab dikenal Ning Eva, pengasuh pondok pesantren Dalem Ning Eva ( DNE ) Al Falah yang berada di kawasan pondok pesantren Al Falah Ploso kabupaten Kediri menuturkan, program makan bergizi gratis dengan mengambil prespektif perekonomian, merupakan langkah strategis, dimana program yang dicetuskan presiden Prabowo Subianto telah mampu menumbuhkan ekonomi masyarakat.

Ning Eva melanjutkan penuturannya, program makan bergizi gratis tidak hanya membuka lapangan kerja, akan tetapi juga mendorong pergerakan usaha mikro kecil menengah ( UMKM ) dan pemanfaatan pangan lokal.

Namun begitu Ning Eva tidak mengelak kenyataan yang terjadi, dimana dalam pendistribusian makan bergizi gratis, tidak sedikit laporan dari masyarakat mengenai persoalan mulai dari ketidaksesuaian gizi hingga variasi menu makanan bagi siswa.Putri KH. Munif Djazuli pendiri pondok pesantren Queen Al Falah memiliki sekolah berbasis pesantren yang mengedepankan akhlaqul karimah menyampaikan, bahwasanya Badan Gizi Nasional ( BGN ) telah melakukan tindakan tegas kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi ( SPPG ) yang tidak mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) dan standar gizi dalam program makan bergizi gratis.

Nyai Hajjah Eva Munaifah Djazilah juga memberikan penjelasan dengan timbulnya pandangan – pandangan dari kalangan masyarakat, bertambahnya beban biaya pendidikan di perguruan tinggi, merupakan efek dijalankan program makan bergizi gratis, Ning Eva menampik bila ada pemikiran tersebut dengan mengemukakan, kenaikan biaya pendidikan pada perguruan tinggi tidak ditentukan oleh pemerintah, akan tetapi kebijakan tersebut merupakan

ketentuan yang diambil oleh pimpinan perguruan tinggi, meski sebelumnya dilakukan konsultasi dengan kementrian yang terkait.

” program makan bergizi gratis itu bagus, kenyataannya mampu menumbuhkan ekonomi masyarakat. Kita lihat disini, berapa besar transaksi hasil pertanian, peternakan, perikanan. Belum lagi MBG juga telah menyerap tenaga kerja

dan UMKM juga memperoleh manfaatnya.Yang perlu dilakukan evaluasi atau pembenahan itu pelaksanaanya, persoalan mulai dari menu serta ketidaksesuaian gizi, dan BGN juga sudah melakukan tindakan tegas terhadap SPPG yang tidak mematuhi ketentuan – ketentuan.” jelas Ning Eva Munif Djazuli, saat Harian Forum.com, bersilaturahmi di ndalem Ning Eva, Minggu malam (22/3).

” kalau untuk biaya pendidikan, saya rasa tidak semua naik seperti itu.Mungkin yang dimaksud untuk perguruan tinggi, itupun saya rasa masing – masing perguruan tinggi mempunyai otoritas dalam menetapkan berapa biaya yang akan diberlakukan, tanpa ada campur tangan pemerintah atau negara.Pimpinan perguruan tinggi menaikkan biaya juga masih mungkin, dikarenakan perguruan tinggi mempunyai keinginan menambah kesejahteraan para dosen atau siapapun yang berada di dalamnya.

Tapi yang perlu dipahami, perguruan tinggi memberikan beasiswa bagi yang berprestasi, yang tidak mampu, yatim dan lainnya, itu masih sangat banyak.Bahkan dari pemerintahpun terdapat program – program keringanan pendidikan, baik dari tingkat sekolah dasar, hingga sampai perguruan tinggi. ” tambah pengasuh pesantren Dalem Ning Eva yang aktif dalam pendidikan pesantren serta berbagai kegiatan sosial.

Melihat kondisi politik saat ini dan disinggung kemungkinan kedepannya ada keinginan untuk bergabung di salah satu partai politik, Ning Eva Munif Djazuli menyampaikan bahwa saat ini dirinya tetap konsisten dan terfokus berjuang untuk pendidikan, meskipun diakuinya dalam sistem demokrasi, partai politik merupakan wadah penyalur aspirasi rakyat dan pembuat kebijakan – kebijakan. Menurutnya, sangat diperlukan pendidikan politik untuk pemahaman bagi warga akan hak dan kewajibannya dalam bernegara serta memperkuat demokrasi.

Diakhir perbincangan, Ning Eva menyentil pentingnya penggunaan teknologi komunikasi seiring merebaknya media sosial, sebuah ruang kebebasan publik untuk menyampaikan pendapat secara bebas tanpa melalui editorial, sehingga acap kali melahirkan berita.

hoaks maupun disinformasi. Dan lebih memprihatinkan baginya, adanya media massa memprioritaskan azas materialistik atau materialisme sehingga dalam memberikan informasi atau penyampaian berita tidak objektif, bahkan membangun framing sepihak secara ekstrem.

” merasakan kondisi politik sekarang ini, menurut pandangan saya, semua yang terjadi adalah dampak dari masa pemerintahan sebelumnya.Semua berkaitan, jadi bingung untuk menjawab siapa yang salah, karena sebenrnya semua mempunyai andil. Kita akui tanpa parpol hanya bisa bersuara, tetapi tanpa bisa menciptakan atau mengubah kebijakan.Kadang yang belum bisa dipahami oleh masyarakat awam, jika kita ingin mewujudkan banyaknya cita – cita, ya kita harus menjadi salah satu organ penting di dalam sistem pemerintahan. Siapa yang mau memperjuangkan nasib masyarakat di bawah, pejuang – pejuang tanpa lelah, kalau salah satu dari mereka tidak diangkat atau didukung masuk ke dalam sistem.” tandas Ning Eva.

” justru yang menjadi keprihatinan bagi saya saat ini adalah media. Kadang dengan uang atau dengan kekuasaan, ada pihak menyebarkan berita berdasarkan pesan yang sesuai keinginan dari pihak tertentu, bukan karena fakta atau realita. Semakin sedikit media yang memberitakan tentang sebuah kebenaran, begitu juga dengan media sosial.” pungkas pengasuh pondok pesantren Dalem Ning Eva.(Ans).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *